Pakar Investasi: Pahami Risiko Sebelum Keluarkan Uang

Konsultan Usaha Mikro Kecil Menengah, UKM Center Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Syiah Kuala, Ali Mulyagusdin. Dok. Istimewa

Investasi bodong kerap menawarkan keuntungan besar di luar kebiasaan investasi. Oleh sebab itu, sebelum anda mengeluarkan uang, sebaiknya ukur dengan matang risiko terburuk.

Konsultan Usaha Mikro Kecil Menengah, UKM Center Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Syiah Kuala, Ali Mulyagusdin, menuturkan hal mendasar yang perlu dipahami sebelum melakukan investasi adalah tujuan investasi, risiko, masa investasi, dan besaran provit.

Tujuan investasi sangat penting karena akan menjadi pertimbangan besaran nilai investasi yang akan dikeluarkan. Misalnya, investasi untuk persiapan pernikahan akan berbeda nilai investasi dengan kebutuhan pendidikan.

Ketidakmampuan memahami hal dasar itu membuat banyak orang terjebak dalam investasi bodong.

“Banyak orang yang menginvestasikan uangnya pada janji memberikan keuntungan besar, meski itu tidak logis,” kata Ali, Kamis (25/2/2021).

Ali menambahkan,  jika investasi bagus dalam jangka pendek, kemungkinan akan buruk pada masa jangka panjang. Karena, sudah pasti laba besar akan dibarengi dengan risiko besar pula.

Ali menyarankan warga sebelum memutuskan mengeluarkan uang untuk investasi,  sebaiknya mempelajari keabsahan lembaga/badan investasi. Keabsahan dapat ditelusuri melalui Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Jika tidak terdaftar di OJK, sebaiknya batalkan niat untuk investasi di tempat itu.

“Silahkan memilih investasi di lembaga yang terdaftar di OJK. Yang intinya jangan terbuai dengan janji tingkat pengembalian besar, karena hasil besar tidak akan didapat hanya dengan memberikan modal sedikit,” kata Ali.

Di Banda Aceh, isu investasi bodong menjadi perbincangan publik menyusul sebuah usaha butik diduga melakukan penipuan. Kasus tersebut kini sedang ditangani oleh Kepolisian Daerah Aceh.

Kepala Bidang Humas Polda Aceh Kombes Winardy, mengatakan, kasus dugaan investasi bodong tersebut saat ini sedang dalam penyelidikan. Sejumlah orang mulai dari pemilik, staf, dan konsumen telah dimintai keterangan.

Winardy menuturkan , perusahaan tersebut melakukan penghimpunan dana dari masyarakat tanpa ijin otoritas jasa keuangan (OJK). Sehingga, dianggap melanggar tindak pidana perbankan.

Hasil pemeriksaan pihak kepolisian diketahui bahwa anggota perusahaan butik hingga kini telah mencapai 3.755 orang yang tersebar di Aceh, Sumatra Utara, dan Riau. Adapun total yang didapatkan lebih kurang Rp20 miliar.

Belum ada tersangka dalam kasus itu, namun polisi mencium ada dugaan tindak pidana pencucian uang. Sejumlah harta milik perusahaan telah disita oleh polisi.

Total
2
Shares

Tinggalkan Balasan

Previous Article

Kasus Pemuda Perakit Senjata di Aceh Jaya, Diselesaikan Secara Restorative Justice

Next Article
Kabid Humas Polda Aceh, Kombes Pol Winardy.

Polisi: Bangunan yang Terbakar di Aceh Jaya Bukan Musala

Related Posts