Pedagang Kerang di Aceh Alami Penurunan Omzet Akibat Pandemi

Foto: Rianza Alfandi/readers.ID

Seorang pria tua darii balik gubuk kecil di kawasan bantaran Krueng (sungai) Lamnyong tampak begitu semangat. Dengan suara lantang, ia sesekali memanggil setiap pengendara motor yang melintas. Seraya  menunjukkan tumpukan kerang yang ada di atas meja di depannya. 

Abdul Wahab (62), salah satu dari para penjual kerang yang masih eksis berdagang di kawasan bantaran Krueng  Lamnyong, tepatnya di Desa Baet, Kecamatan Baitussalam, Aceh Besar. Di dalam gubuk berukuran 2 x 2 meter beratapkan seng, Wahab menjual kerang jenis tiram, lokan dan kepiting.

“Piyoh-piyoh (singgah-singah),” ucap Wahab menawari dagangan kepada setiap warga yang melintas.

Wahab merupakan warga asli Desa Baet, ia sudah berjualan kerang sejak dari tahun 2005 silam. Tepatnya satu tahun pasca tsunami melanda Aceh.

Kini pandemi Covid-19 telah menyerang sisi ekonomi Wahab, ia merasakan betul dampak wabah corona asal China itu. Selama ini penghasilan Wahab sangat menurun, berbeda saat sebelum virus mematikan itu masuk ke Aceh.

Foto: Rianza Alfandi/readers.ID
Foto: Rianza Alfandi/readers.ID

Wahab mengatakan, sebelum pandemi dirinya mengaku mampu memperoleh pendapatan 300 hingga 500 ribu per hari dari hasil jual tiram, kerang dan kepiting. Namun, selama Corona merebak, omzet penjualannya menurun drastis, bahkan tidak jarang hasil yang diperoleh tidak sesuai dengan modal yang dikeluarkan.

“Sebelum Corona Alhamdulillah ada lah kemudahan rezeki, bisa dapat 300 ribu atau lebih, bisa balik modal. Tapi selama ini sulit, bahkan sehari kadang hanya 50 ribu, modal aja ngak balik,” ujar Wahab saat ditanyai Readers.ID, Kamis (11/3/2021).

Wahab menyampaikan, kerang dan kepiting yang dijualnya itu merupakan hasil tangkapan para penduduk setempat yang terlebih dahulu dibeli olehnya. Namun, tidak melulu menjadi pengepul, Ia juga sesekali turun ke sungai untuk mencari kerang saat air laut surut.

Tidak mencari banyak keuntungan, Wahab menjual tiram miliknya dengan harga Rp 15 ribu hingga Rp 25 ribu per plastiknya. Sedangkan kepiting dijual Rp 70 ribu sampai Rp 100 ribu per kilonya.

“Enggak mahal-mahal, kita isi dalam plastik biar kalau ada mobil yang mampir dan beli jadi ngak ribet lagi,” ujarnya.

Seakan tak ada pilihan lain, meski terkena dampak pandemi, Wahab dan penjual tiram lain di sekitar Krueng Lamnyong itu tetap memilih bertahan dengan profesi tersebut.

“Semoga Covid ini cepat hilang, biar ekonomi masyarakat bisa kembali normal. Kalau ginikan sepi, hari ini aja belum ada yang laku,” pungkas Wahab.

Total
6
Shares

Tinggalkan Balasan

Previous Article

Dewan Pers: Pasal 27 UU ITE Seperti Monster di Film Harry Potter

Next Article

Seleksi JPT Pratama Rampung, Hasilnya Diserahkan ke Gubernur

Related Posts