CERPEN: Perkara Dana Hibah (4)

Ilustrasi dana hibah/mediaindonesia.com

“Selain isu dana hibah yang diberikan pemerintah untuk lembaga kepemudaan, masalah apa yang paling hangat dibicarakan oleh orang-orang di Bandar Gemilang ini, Lem?” tanya Aiyub.

Lelaki itu menghela nafas sembari melepaskan asap kreteknya ke langit-langit warung, lalu ditiup baling-baling kipas angin, menjadi kabut yang melimbuti pepohonan di sepanjang jalanan berdebu kota nan megah itu.

BACA JUGA:

CERPEN: Perkara Dana Hibah (1)

CERPEN: Perkara Dana Hibah (2)

CERPEN: Perkara Dana Hibah (3)

“Sebenarnya, isu yang amat sering dibicarakan oleh orang kebanyakan adalah soal distribusi air bersih, serta sampah yang menyampah. Itu adalah janji pemerintah di sini yang belum terealisasi sampai dengan kini. Namun, kita sebagai masyarakat yang bukan berdarah dan ber-KTP Bandar Gemilang tak boleh menyentil perihal ini,” jelas Lem Umar.

“Kenapa demikian?” tanya Aiyub lagi.

“Memang demikian, bazzer-nya pemimpin kami seringkali menyerang atau membully masyarakat yang mengkritis pemetintah dengan cara itu,” timpal Mus.

Mus merupakan asoe lhok, juga bangsawan Bandar Gemilang yang memilih menjadi oposisi, ketimbang harus menjadi lamiet istana yang bermodalkan dengkul dan cacat logika.

Aiyub baru mendengar bahwa sekelas pemimpin nan gagah perkasa, arif, dermawan, dan bijaksana seperti pemimpinnya Mus memelihara lamiet cacat logika? Ini tak masuk akal, atau jangan-jangan ini hanya reka-reka lelaki itu, sebab dia berada di pihak yang bersebelahan?

“Bukankah di tangan pemerintah kini, bandar ini begitu gemilang Mus?” tanya Aiyub lagi. Kali ini Mus tertawa dengan pertanyaan si perantau itu. Barangkali, menurutnya itu merupakan pertanyaan yang receh dan lucu.

“Tepat sekali, Aiyub. Bandar ini amatlah Seumilang. Eh, gemilang maksudku,” Lem Umar tertawa terpingkal-pingkal dengan perkataan Mus.

Aiyub pun terbahak dibuatnya. Sepenjuru Bandar Gemilang, sekilas kasat mata memang sangatlah indah. Pantai dan bukit-bukit, situs cagar budaya, dan tempat-tempat purbakala membuat kota ini dikenal dengan peradabannya yang begitu kaya.

Aiyub masih tak percaya pada penjelasan Mus. Apapun yang dia katakan, baginya kota ini benar-benar gemilang, dan itu dapat dilihat dari semrawutnya tatanan pemerintahan, lapak niaga di atas badan jalan, parkir yang tidak beraturan, sampah-sampah yang tak memiliki istana, soalan air bersih yang tak pernah tuntas, pula tempat-tempat sejarah yang tak dipugar dengan baik, bahkan janji-janji pemimpin yang tak bermuara.

“Baiklah. Kita kembali ke soalan awal, menyangkut dana hibah. Terlalu kecil jika kita membahas Bandar Gemilang,” potong Lem Umar. Aiyub mengangguk, Mus juga ikut serta dengan ajakan lelaki yang sedikit dingin itu.

“Soalan dana hibah juga terlalu receh kita bahas, Lem, kata Mus. Masih banyak topik lain yang seharusnya kita sentil di Aceh ini.” Aiyub menyimak dengan seksama pembicaraan mereka, dan direkam di ingatannya, serta disimpan erat-erat di memori keabadiannya. Ia berharap kisah ini menjadi catatan sejarah di masa mendatang.

“Benar, Mus. Tapi, isu ini lagi seksi-seksinya,” seru Lem Umar.

“Seksi mana antara isu dana hibah untuk ormas/OKP ketimbang perkara beasiswa, oncology, multiyears, interpelasi, sengketa pokir, air bersih, bansos Covid-19, dan lain-lain? Belum lagi sengketa Pilkada, MOU Helsinki, dan UUPA yang saban waktu terkendala?” tanya Mus blak-blakan.

Lem Umar sedikit tercengang dengan pertanyaan Mus. Sedang Aiyub hanya melongo, menatap fokus kearah Mus.

“Sebagai aktivis jalanan, maka kau jangan berdiam diri dengan keadaan itu, Mus. Nyatakan sikapmu atas itu semua,” timpa Lem Umar.

Aiyub baru tahu kalau Mus itu adalah aktivis jalanan yang cadas dan kritis. Dugaannya kali ini tepat, bahwa dia bagian dari pengagum Che Guevara, Fidel Castro, atau Tan Malaka.

“Aku tak ingin terlibat lagi di dunia jalanan, Lem. Banyak hajat dan kepentingan orang dalam setiap ritual demonstrasi kami. Aku menyedari itu,” hela Mus begitu lugas.

Wajahnya mulai berubah, dari merah membara menjadi lebam masai. Mungkin pemuda itu tak berkenan ketika Lem Umar menyentuh tempatnya berjuang dalam memperjuangkan kemaslahatan bangsa.

“Jika begitu, berarti kau sama juga dengan kaula muda yang berhimpun di ormas/OKP yang menerima bantuan dana hibah dari pemerintah. Setelah mulutmu disumpal uang receh, kau diam seribu bahasa. Sebenarnya, kota ini yang sunyi senyap, apa kau dan kawan-kawanmu yang kritis-kritis itu sudah di titik capaian, mendapatkan SK dari pemerintah atau bantuan fisik lain?”

Lem Umar terus menyentil Mus yang belakangan ini diketahui sebagai tokoh muda yang begitu gencar-gencarnya mengkritis kebijakan pemerintah yang tidak berpihak kepada rakyat.

Malam masih dingin, hawa sejuk memeluk sepenjuru persada kota Banda Aceh. Mus mulai terdiam, kepalanya menekuk ke bawah. Jiwanya yang begitu bersemangat tetiba redup dalam gumpalan asap kretek Lem Umar.

Di depannya Aiyub hanya dapat menukik senyum, lagi pula si perantau itu tak mengenal Mus yang sedang duduk berhadapan dengannya.

“Jika aku  menjadi Mus, hanya ada satu jawaban pamungkas yang dapat kulemparkan ke atas Lem Umar, bahwa semua yang kupilih dalam karir hidup ini adalah berkaitan erat dengan “restu bunda”.

Bila makku tak merestui dengan apa saja yang sedang aku lakoni, maka kesia-siaanlah yang menyertaiku setiap waktu,” gumam Aiyub.

Jarum jam berpacu pada angka 01:41 WIB. Lem Umar memanggil pramusaji, dan tandanya mereka akan kembali menempuh jalan pulang ke tempat pengistirahatan masing-masing.

Sedangkan pembahasan Mus dan Lem Umar berakhir tanpa titik temu dan tak berujung. Keduanya masih berdiam diri, pun raut wajah Mus belumlah cerah, masih masam, pucat pasi dan kusam.

Setelah membayar kopi, mereka berpisah dan menempuh jalanan sunyi senyap kota Banda Aceh yang maha gemilang itu. Aiyub masih berharap, lain kali dapat bertemu kembali dengan Mus yang cerdas, kritis, pula tak pernah menyepelekan nilai kritisnya, bahkan meletakkan “restu bunda” setinggi-tingginya. [tamat].

Total
30
Shares

Tinggalkan Balasan

Previous Article
Polisi Tangkap Kades di Aceh Utara Sedang Pesta Sabu

Polisi Tangkap Kades di Aceh Utara Sedang Pesta Sabu

Next Article

KPU Larang KIP Aceh Jalankan Tahapan Pilkada 2022

Related Posts