Pulihkan Ekonomi Aceh, Jangan Abaikan Sektor-sektor Ini

Potret aktivitas nelayan di Aceh. [readers.ID/Hotli Simanjuntak]

Upaya menunjang taraf perekonomian masyarakat di Aceh seharusnya tidak mengabaikan sektor-sektor penting yang selama ini telah berkontribusi menyerap tenaga kerja dan pendapatan untuk Aceh. Di antaranya sektor pertanian, kelautan dan perikanan.

Menyikapi minimnya pengelolaan potensi ekonomi di Aceh selama ini, Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA), Dahlan Jamaluddin, kepada readers.ID pekan lalu mengatakan, ketergantungan fiskal Aceh semata pada pemerintah pusat sudah saatnya diakhiri.

“Otsus kita tidak lama lagi, sementara hingga kini sektor-sektor penting belum juga tergarap maksimal,” ucap Dahlan.

Bicara sektor kelautan, Dinas Kelautan dan Perikanan Aceh mencatat dari luasan perairan laut Aceh yang mencapai 295.370 km2, potensi yang belum digarap masih sangat besar. Dengan luas itu pula Aceh diperkirakan mengantungi sumber daya ikan laut hingga 272 ribu ton per tahun. Sementara yang mampu dimanfaatkan baru sekitar 70 persen.

Dahlan mengatakan, sedikitnya ratusan miliar anggaran dikelola dinas terkait untuk membangkitkan potensi laut dan perikanan itu. Menurut dia, anggaran sebesar itu seharusnya mampu mengidentifikasi persoalan yang dihadapi para nelayan saat ini.

Di sektor perikanan tangkap, misalnya, patut disoroti kualitas dari pelabuhan perikanan di Aceh. Tak hanya sampai di situ, kapal penangkap ikan di Aceh menurut Dahlan juga perlu dimodernisasi, sehingga daya jelajah kapal bisa memaksimalkan hasil tangkapannya.

“Jangan lupa, ketika ada hasil tangkapan yang besar, misalnya, apakah sudah didukung juga dengan Tempat Pelelangan Ikan yang bagus? Sehingga jelas juga pemasarannya. Hal-hal dasar seperti ini perlu dibenahi lagi oleh pemerintah,” pinta Dahlan.

Sedangkan di sektor pertanian, Aceh juga punya potensi besar. Pertanian disebut-sebut sektor yang paling banyak menyerap tenaga kerja di Aceh. Kontribusi Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) nya juga sangat tinggi, kurang lebih mencapai 30 persen lebih.

“Yang patut kita pertanyakan adalah kekurangan sektor ini, lantaran tak punya kontribusi dan nilai tambah selain hanya mampu menghasilkan gabah,” kata dia.

Terjebak Auto Pilot

DPRA meminta perhatian serius dari Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Aceh bersama Satuan Kerja Perangkat Aceh memikirkan solusi memulihkan ekonomi masyarakat. Catatan Dahlan, semua sektor terutama yang langsung berhubungan dengan masyarakat masih berbasis project.

“Sehingga tak berkontribusi apa pun terhadap masyarakat. Dengan anggaran yang besar yang digelontorkan selama ini, tak akan berdampak. Uangnya dibelanjakan, tapi outcome-nya tidak ada,” imbuhnya.

Dari postur APBA, kata Dahlan, tampak ketergantungan Aceh pada pusat amat tinggi, terutama kontribusi dari Dana Alokasi Umum, Dana Alokasi Khusus, Otonomi Khusus serta bagi hasil migas. Sedangkan kontribusi Pendapatan Asli Aceh menurutnya hanya sekitar 18-20 persen.

“Jadi jika ada anggaran sebesar Rp16,9 triliun, kontribusi kita cuma 2 triliunan, kecil sekali memang pendapatan asli kita. Dari mana saja sumbernya? Itu banyaknya dari pajak kendaraan bermotor, ini kan pendapatan yang auto pilot, masuknya ya otomatis saja,” ungkap Dahlan.

Dahlan meminta sudah saatnya Pemerintah Aceh memaksimalkan potensi pendapatan lainnya. Zakat, misalnya. Potensi tersebut bahkan sangat relevan dengan Aceh sebagai daerah berbasis Syariat Islam. Selama ini zakat hanya diperoleh dari potongan gaji pegawai, belum sepenuhnya menyasar para wajib zakat itu sendiri.

“Jadi bisa kita simpulkan baik dari sisi pendapatan maupun belanja Aceh, keduanya tidak digarap maksimal. Bukan hanya membelanjakan uang negara tapi tidak menghasilkan output yang berarti pun masih banyak masalah,” pungkasnya.[]

Total
4
Shares

Tinggalkan Balasan

Previous Article

Tata Kelola Pemerintahan di Aceh Dinilai Gagap Tangani Pandemi

Next Article

Gegara Pungli, Bobby Pecat Oknum Kepala Lingkungan di Medan

Related Posts