Refleksi Hari Lahir Pancasila, Milenial Bisa Apa?

Elicia Eprianda Anggota UKM Excellent Academic Community (EXACT), UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Setiap tanggal 1 Juni diperingati Hari Lahir Pancasila. Hal ini tertuang dalam Keputusan Presiden Nomor 24 Tahun 2016.

Kondisi alot pada tanggal yang sama tahun 1945 mengingatkan kita bagaimana perjuangan para pahlawan bangsa ini mencapai kemerdekaan.

Kala itu, Sukarno menyampaikan gagasannya terkait dasar negara Indonesia, yang dinamai “Pancasila”. Panca berarti lima, sedangkan sila artinya prinsip atau asas.

Pancasila sebagai falsafah bangsa Indonesia, telah berkembang secara alamiah dari ekspedisi panjang sejarah, berisikan pemikiran hidup, kepribadian serta nilai-nilai luhur bangsa Indonesia.

Dewasa ini, memaknai Pancasila tidak cukup hanya dengan memahami butir-butirnya saja. Namun lebih dari itu, harus memaknai dengan semangat aplikatif dalam kehidupan sehari-hari.

Lalu bagaimana dengan milenial merefleksikan Pancasila?

Menjadikan bangsa ini sebagai bangsa yang beradab, terpandang dan tak dianggap sebelah mata oleh bangsa lain merupakan wujud dari cita-cita Pancasila.

Milenial semestinya bermain di sana. Sebab pada zaman ini, perang dan penjajahan tak ada lagi di Indonesia. Tugas kita sekarang adalah mengangkat taraf hidup bangsa ini menjadi yang lebih baik.

Milenial harus menjadi solusi di antara kemelut permasalahan bangsa ini, entah itu malah kemiskinan, pengangguran, rendahnya tingkat pendidikan dan permasalahan yang begitu kompleks lainnya.

Jika ditanya milenial bisa apa untuk menjawab semua itu, setidaknya butuh tiga hal yang mesti diasah bagi para milenial agar kelak mampu mengaplikasikan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupannya sehari-hari dan berimpek terhadap kemajuan bangsa ini.

Pertama, mengasah kreativitas. Diketahui kreativitas adalah menciptakan suatu hal yang baru baik itu berupa gagasan maupun karya nyata.

Upaya ini adalah cara efektif untuk memaknai Pancasila sebagai ajaran dan nilai yang harus dibangun baik dalam industri 4.0 maupun dalam berbagai macam karya-karya yang dimungkinkan.

Sebagai contoh yaitu William Tanuwijaya, ia adalah seorang milenial pendiri Tokopedia. Kreativitas yang berawal dari inspirasinya terhadap dunia digital hingga akhirnya dengan kerja kerasnya berhasil menjalankan Tokopedia dengan meyakinkan orang-orang tentang potensi sebuah perusahaan internet.

William dengan Tokopedia pula yang kemudian memberi wadah bagi UMKM bertemu dengan pasar dan pembeli hanya dengan seujung. Kreativitas seperti ini yang kemudian sangat dibutuhkan bangsa kita ke depan.

Kemudian ada lagi Belva Devara, pendiri Ruangguru. Belva merupakan satu-satunya entrepreneur asal Indonesia yang masuk dalam jajaran 30 Pemuda Pelopor Perubahan dari The Straits Times.

Semua bisa terjadi berkat kreativitas dan kesuksesannya dalam memanfaatkan teknologi untuk memajukan pendidikan di Indonesia. Perlu banyak Belva yang lain di negeri ini agar aktualisasi Pancasila benar-benar bisa dilakukan dengan gerakan milenial kreatif yang nantinya berdampak terhadap kemajuan bangsa.

Kedua, mengasah kecerdasan emosional. Kecerdasan atau kemampuan pribadi untuk mengenali serta mengendalikan perasaan dan maknanya secara mendalam sehingga membantu perkembangan emosi dan intelektual.

Menurut Kaelan (2010: 31) nilai-nilai yang terkandung dalam sila kedua: Kemanusiaan yang Adil dan Beradab adalah bangsa Indonesia diakui dan diperlakukan sesuai dengan harkat dan martabatnya selaku makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa, yang sama derajatnya, menjunjung tinggi hak-hak asasi manusia, sama hak dan kewajibannya, tanpa membeda-bedakan agama, suku ras, dan keturunan. Mengembangkan sikap saling mencintai sesama manusia, tenggang rasa, tidak semena-mena terhadap sesama manusia, dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.

Sebagai contoh, dalam hal kepemimpinan. Pemimpin yang efektif sangat diperlukan di era globalisasi ini. Seorang pemimpin yang mampu memberikan perhatian pribadi pada bawahan, memperlakukan setiap karyawan sebagai individu yang unik, dan melakukan pengembangan kepribadian terhadap setiap karyawan merupakan komponen transformasional. Perilaku yang ditunjukkan dalam kepemimpinan transformasional adalah cerdas secara emosional.

Oleh sebab itu, penting bagi milenial mengenali diri, mengelola emosi, memanfaatkan emosi secara produktif, empati, serta kesanggupan untuk membina hubungan sosial.

Kemampuan emosional itu memungkinkan seseorang tidak hanya memproses hal-hal yang sarat dengan muatan informasi secara efektif, akan tetapi mereka juga dapat menggunakan informasi tersebut untuk mengatur dunia sosial organisasi untuk mendapatkan kemakmuran.

Ketiga, berpikir kritis. Bangsa ini masih krisis semangat dan jati diri akibat tergerus seiring perkembangan zaman. Hal ini akan membuat rusaknya ideologi dan budaya bangsa itu sendiri.

Oleh karena itu, untuk menyiapkan milenial yang akan menjadi pemimpin bangsa yang beradab dan berilmu serta cinta tanah air, dibutuhkan upaya pembentukan kecerdasan emosi dengan berpikir kritis, memahami apa yang dibutuhkan bangsa ini dan tahu harus berbuat seperti apa ke depan.

Menurut Screven dan Paul serta Angelo (dalam Yuniar) memandang, berpikir kritis sebagai proses disiplin cerdas dari konseptualisasi, penerapan, analisis, sintesis dan evaluasi aktif dan berketerampilan yang dikumpulkan dari, atau dihasilkan oleh observasi, pengalaman, refleksi, penalaran, atau komunikasi sebagai sebuah penuntun menuju kepercayaan dan aksi.

Dengan berpikir kritis para milenial dapat membentuk karakter yang baik dan cerdas, yang pasti hal ini dapat menjaga keutuhan nilai-nilai Pancasila sebagai landasan berbangsa dan bernegara.

Milenial yang hebat adalah yang mampu berpikir realistis, bahwa di era saat ini memang harus menggali potensi diri, berani bergaul, banyak membaca, dan berusaha untuk terus berkarya, jangan takut untuk gagal, bergabung dengan komunitas atau sekolompok orang untuk dapat mengembangkan diri dan memperkaya cara pandang kita untuk melihat segala sesuatu yang tidak hanya dari satu perspektif saja.

Milenial jangan hanya diam dan terkukung dengan perasaan pesimis. Negara ini membutuhkan para milenial tangguh sebagai agen-agen perubahan yang terbuka pada inovasi, produktif, dan inovatif.

Perihal yang tidak kalah pentingnya yaitu peran mereka dalam mengawasi para pemimpin di negeri ini agar dipegang oleh mereka bijaksana, mengetahui permasalahan bangsa ini serta punya solusi yang jelas terhadap apa ditawarkan.

Generasi milenial perlu bekerja lebih keras lagi untuk membangun komitmen berpancasila di tengah godaan ideologi global saat ini. Tentunya juga melalui pendidikan. Melalui pendidikan, maka luaskanlah pandangan, perdalam ilmu pengetahuan dan adabnya, tinggikan impian dan cita-cita, berjuang, dan belajarlah dengan sungguh-sungguh agar dapat memberikan kebermanfaatan bukan hanya untuk diri kita sendiri, tetapi juga untuk orang lain, dan untuk Indonesia.

Temukan sesuatu yang dapat menggerakkan pada perkembangan diri, jangan menyerah dan takut akan kegagalan. Salurkanlah kemampuan untuk menghasilkan sesuatu yang berharga, dan percayalah pada kemampuan diri sendiri.

Maka dari itu, Pancasila harus dijadikan pedoman seluruh anak bangsa dalam kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat khusunya bagi generasi milenial. Pancasila tidak semestinya lagi diajarkan secara formal dengan tampilan yang kaku, namun yang terpenting ialah hakikatnya tetap terjaga dan selalu diamalkan.[]

Penulis: Elicia Eprianda

 Anggota UKM Excellent Academic Community (EXACT), UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Total
0
Shares

Tinggalkan Balasan

Previous Article

Foto Feature: Pengawasan Protokol Kesehatan di Kawasan Wisata

Next Article

Zidane Buka Suara Soal Mundurnya dari Real Madrid

Related Posts