Rektor USK: Aceh Laboratorium Konflik Bagi Mahasiswa Papua

Rektor USK Prof Samsul Rizal saat mengisi Sosialisasi 4 Pilar MPR-RI di Gedung AAC Dayan Dawood USK, Kamis (10/6/2021) Foto: Roni/readers.ID

Rektor Universitas Syiah Kuala Prof Samsul Rizal berkeinginan agar Aceh menjadi laboratorium atau tempat belajar bagi mahasiswa Papua, tentang bagaimana provinsi paling barat Indonesia ini melewati masa-masa konflik.

“Ada sejumlah mahasiswa afirmasi dari Papua yang kuliah di USK. Kita menyediakan hingga asrama bagi mereka. Kita ingin, para mahasiswa ini belajar dari Aceh dengan melihat langsung ke sini, belajar bagaimana melewati masa-masa konflik hingga damai seperti sekarang ini,” kata Samsul saat memberi sambutan Sosialisasi 4 Pilar MPR-RI di Gedung AAC Dayan Dawood USK Banda Aceh, Kamis (10/6/2021).

Samsul menyebutkan, konflik antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan Republik Indonesia selama 29 tahun dan diakhiri dengan tsunami yang memporak-porandakan bumi Serambi Mekkah ini, membuat Aceh punya cukup pengalaman bagaimana menghadapi konflik.

“Ke depan kami siap menerima lagi mahasiswa Papua di USK. Kemudian ada yang unik, hampir tidak ada anak Papua yang DO di USK, soalnya mereka tidak bisa minum (mabok), sehingga mereka bisa fokus belajar,” cerita Samsul.

“Mereka juga minta kepada gubernurnya di sana (Papua) supaya dikirim lebih banyak lagi mahasiswa untuk kuliah ke Aceh. Perlu Pak Ketua MPR ketahui kita mau bangun asrama tambahan. Sudah punya tanah, tapi belum ada gedungnya. Kalau bisa coba tolong didorong di pusat pak,” seloroh sang rektor disambut tawa.

Tak Toleransi Adalah Tindakan Primitif

Samsul RizalĀ  juga menyampaikan, sikap tidak toleransi dalam menghadapi perbedaan adalah kuno dan primitif seperti sebelum datangnya Rasullullah Saw.

“Toleransi terhadap suku dan agama pada masa Rasulullah Saw dibuktikan dengan lahirnya Piagam Madinah. Antar suku dan agama berbeda harus saling menghargai dan tak boleh saling menyakiti satu sama lain,” katanya.

Rektor USK itu berujar, Indonesia yang majemuk atau beragam harus terus menjaga toleransi untuk saling menghargai perbedaan dan menjauhi perlakuan SARA dalam berwarganegara.

“Kemajemukan tidak bisa dinafikan. Bahkan hal ini dinukilkan dalam Alquran bahwa kita itu diciptakan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa. Tujuannya agar saling mengenal dan saling menghargai,” sebutnya.

“Makanya kemudian kita punya falsafah negara yakni Pancasila. Dengan itu kita menjadi bersatu dan paham atas keberagaman atau pluralisme. Kegiatan hari ini diharapkan menambah wawasan kita tentang itu,” pungkas Samsul.

Kegiatan Sosialisasi 4 Pilar MPR-RI bertema Merawat Indonesia yang Pluralisme Melalui Penanaman Empat Pilar Kebangsaan di Perguruan Tinggi itu menghadirkan langsung Ketua MPR RI Bambang Soesatyo dan sejumlah pejabat kampus, civitas akademika dan mahasiswa, baik secara daring maupun luring.

Total
0
Shares

Tinggalkan Balasan

Previous Article

Potret Vaksinasi Lansia di Lokasi Wisata PLTD Apung Banda Aceh

Next Article

Banda Aceh Mulai Sosialisasi Pembatasan Penggunaan Kantong Plastik

Related Posts