Salah Kaprah Memahami Wisata Halal

Mesjid Raya Baiturrahman merupakan salah satu mesjid bersejarah di Indonesia. Foto: Hotli Simanjuntak/readers.ID

Pariwisata halal atau Muslim Friendly Tourism menjadi potensi besar dikembangkan di Indonesia, begitu juga Aceh yang banyak memiliki sejarah perkembangan masuknya Islam pertama di Nusantara ini.

Ada banyak destinasi yang menarik dijelajahi di bumi Serambi Mekkah, baik untuk wisatawan lokal maupun wisatawan mancanegara (Wisman). 

Seperti sejarah perkembangan masuknya Islam di Nusantara ini, objek wisata alam, wisata budaya dan wisata buatan seperti Masjid Raya Baiturrahman serta jejak tsunami yang melanda Aceh pada 26 Desember 2004 lalu.

Pada dasarnya konsep halal bukan hal yang tabu di Tanah Rencong. Daerah yang menerapkan syariat Islam, tentunya semua produk, baik makanan, minuman, pelayanan, fasilitas publik dan lainnya merujuk dengan konsep Islami.

Sayangnya, minimnya literasi konsep wisata halal di tengah masyarakat justru menjadi bola liar. Masyarakat di negara mayoritas muslim, cenderung melihat wisata halal sama dengan wisata religi, tak terkecuali di Aceh.

Kekeliruan cara pandang inilah kemudian menjadi salah satu penyebab destinasi wisata halal kurang populer. Ada bias pemahaman di masyarakat tentang wisata ini. Padahal Indonesia pernah meraih 12 penghargaan dari 16 kategori yang kompetisikan di ajangan World Halal Tourism Awards Abu Dhabi, Uni Emirat Arab 2016 lalu.

Sedangkan Aceh dalam ajang prestisius wisata halal itu berhasil meraih dua penghargaan yakni World’s best halal cultural destination dan World’s best airport for halal travellers. Yaitu  kategori Budaya dan Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda (SIM), Blang Bintang, Aceh Besar, Provinsi Aceh.

Wisata sejarah menambah daya tarik wisatawan untuk berkunjung. Foto: Hotli Simanjuntak/readers.ID

Bisnis pariwisata cukup bernilai ekonomi dapat berkontribusi untuk meningkatkan pendapatan masyarakat dan pengentasan kemiskinan. Terlebih Aceh selama pagebluk Covid-19 telah berdampak serius terhadap pertumbuhan ekonomi dan meningkatnya angka kemiskinan dan pengangguran. 

Pertumbuhan ekonomi Aceh 2020 pada posisi negatif atau turun sebesar 0,37 persen. Kondisi ini juga berdampak semakin meningkatnya angka kemiskinan di Serambi Mekkah naik menjadi 15,33 persen pada Maret 2021.

Baca Juga:

Padahal pertumbuhan ekonomi dari sektor pariwisata dapat membangkitkan gairah ekonomi, terlebih paska pandemi. Hal ini bisa dilihat seperti kontribusi di dunia saja mencapai USD 9,17 triliun atau setara dengan 10,4 persen PDB Dunia (WTTC, 2021). Indonesia termasuk dalam 10 negara Asia dan Pasifik dengan kontribusi pariwisata terbesar dari PDB dengan share sebesar 4 persen.

Begitu juga sektor pariwisata halal, seperti Indonesia dan Aceh memiliki potensi besar dapat mendatangkan banyak wisatawan mancanegara. Global Muslim Travel Index (GMTI) 2019 memprediksi, jumlah wisatawan muslim dunia terus meningkat menjadi USD 300 miliar atau Rp 4.200 triliun pada tahun 2026 mendatang. 

Riset dari Pew Research Center menyebutkan, hingga 2050 populasi umat muslim dunia diperkirakan akan tumbuh hingga 75 persen atau dua kali lipat pertumbuhan penduduk dunia (diperkirakan 35 persen). Indonesia sebagai negara muslim terbesar di dunia, memiliki potensi untuk menjadi tujuan wisata utamanya, termasuk Aceh.

Salah kaprah lainnya ada kekeliruan berpikir, masyarakat mengira wisata halal sama dengan wisata religi atau syariah. Padahal kedua konsep ini memiliki perbedaan signifikan. 

“Jadi masalah pemahaman pariwisata halal, yang jadi bias di masyarakat. Karena masyarakat mikirnya wisata halal itu sama dengan wisata syariah atau religi,” ujar Pakar Pariwisata Universitas Andalas, Sari Lenggogeni, kepada Republika Senin (25/3/2021) dikutip dari republika.co.id.

Sari menjelaskan wisata halal merupakan adopsi dari negara- negara non Organisasi Konferensi Islam (OKI) yang melihat potensi besar dari pertumbuhan muslim di seluruh dunia. 

Wisata halal diciptakan untuk mewadahi kebutuhan beribadah bagi para muslim di negara- negara non OKI, seperti penyediaan tempat ibadah (mushola) dan restoran halal.

“Tetapi hal ini kemudian menjadi misinterpretasi ketika Kementerian Pariwisata mengadopsi wisata halal, karena diciptakan di negara yang mayoritas muslim seperti Indonesia. Karena mayoritas muslim jadi masyarakat pikir semuanya sudah pasti halal dan wisata halal sama seperti wisata religi,” paparnya.

Keramah tamahan masyarakat menciptakan rasa nyaman bagi wisatawan. Foto: Hotli Simanjuntak/readers.ID

Sari menjelaskan ada tiga jenis wisata religi. Pertama, wisata dengan tujuan beribadah (pilgrim) seperti haji dan umroh. Kedua, wisata bersifat islami contohnya berwisata ke Turki untuk melihat sejarah kebudayaan Islam usai melakukan ibadah umroh. Ketiga, wisata halal yakni pemenuhan ibadah muslim saat mereka berwisata seperti mushola dan restoran halal.

“Jadi mereka melihat seperti wisata syariah Aceh. Di Aceh memang hukumnya syariah, jadi sudah sejak awal terikat hukum syariah. Sementara provinsi yang lain tidak seperti itu,” jelas Sari.

Sama halnya seperti di Sumatera Barat (sumbar) masih pakai hukum adat. Persepsi karena di Sumbar mayoritas muslim dan menggunakan falsafah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (Adat itu berfalsafah pada Al quran), maka setiap kegiatan harus bereferensi ke Alquran. 

Hal inilah yang membuat mispersepsi muncul, sehingga membuat banyak masyarakat bingung. Masyarakat menganggap wisata di kedua provinsi tersebut sama dengan wisata religi.

“Makanya perlu regulasi untuk menyamakan persepsi. Regulasi ini yang mentok. Tidak akan berjalan dengan baik tanpa ada regulasi. Regulasi ini yang memberikan perlindungan dan asistensi pada pemerintah, wisatawan, stakeholder dan investasi, dan souvenirnya,” jelas Sari.

Keindahan alam dipadu dengan fasilitas yang lengkap bisa menarik kunjungan wisatawan. Foto: Hotli Simanjuntak/readers.ID

Sementara itu menurut Kementerian Pariwisata (2019), pariwisata halal adalah seperangkat layanan tambahan amenitas (fasilitas pendukung), atraksi (daya tarik), dan aksesibilitas yang ditujukan dan diberikan untuk memenuhi pengalaman, kebutuhan dan keinginan wisatawan muslim.

Potensial itu kemudian dihadapkan dengan tingkat literasi masyarakat tentang pariwisata halal di Indonesia masih lemah. Akibatnya memunculkan perdebatan dan pro-kontra terkait penerapannya yang selama ini dibayang-bayangi misinformasi, miskomunikasi dan juga misinterpretasi. 

“Minimnya pemahaman tentang wisata halal di masyarakat seringkali menimbulkan pro-kontra terkait penerapannya di dunia pariwisata,” tulis Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Republik Indonesia, Illiza Sa’aduddin Djamal di akun Instagram pribadinya.

Dikutip dari voaindonesia.com, Muslim Traveler Faith Based Service Needs 2.0 menyebutkan konsep dasar yang perlu disediakan dalam wisata ramah Muslim adalah makanan halal, tempat beribadah, fasilitas berwudhu dan toilet memadai, serta tidak memiliki Islamophobia. Hanya itu saja, syarat dasar yang harus dimiliki sebuah destinasi ramah Muslim.

Hal ini juga diperkuat di Satriana dan Faridah (2018: 39), bahwa indikator kehalalan makanan dan minuman di lokasi destinasi menjadi salah satu syarat utama wisata halal. 

Syarat utama wisata halal juga terletak pada makanan halal, tidak ada minuman keras mengandung alkohol, tidak menyajikan produk dari babi, tidak ada diskotik, staf pria untuk tamu pria dan staf wanita untuk tamu wanita, hiburan yang sesuai.

Selanjutnya, fasilitas ruang ibadah (masjid atau mushola) yang terpisah gender, pakaian islami untuk seragam staf, tersedianya Al-Quran dan peralatan ibadah (salat) di kamar, penunjuk kiblat, seni yang tidak menggambarkan bentuk manusia, toilet diposisikan tidak menghadap kiblat, keuangan syariah, hotel atau perusahaan pariwisata lainnya harus mengikuti prinsip-prinsip zakat.[]

Editor: Afifuddin Acal

Baca Juga:

Total
27
Shares

Tinggalkan Balasan

Previous Article

Satu Penembak Pospol di Aceh Barat Ditangkap, Enam Buron

Next Article

DPR Aceh Ingatkan Masyarakat Waspadai Covid-19 Gelombang Ketiga

Related Posts
Read More

Kata Gen-Z Soal Vaksin

Wajahnya tertutup masker hitam sambil menenteng beberapa lembar kertas menuju meja skrining. Sesekali ia menyeka rambutnya sembari membuang…