Singa Podium Itu Telah Tiada

Prof Farid Wajdi Ibrahim. Rianza Alfandi | readers.id

“InnalillahiwainnalIllahi rajiun, Prof ka woe bak Allah. Buno meninggai di rs meuraxa”.

Beginilah isi pesan singkat dari salah seorang anak almarhum Prof Farid Wajdi Ibrahim yang saya terima melalui sebuah WhatsApp Grup (WAG) yang ada di gawai saya. Grup yang hanya beranggota sepuluh orang ini dibuat guna memudahkan komunikasi untuk pengambilan dokumentasi ceramah-ceramah Prof Farid.

Pesan singkat yang masuk ke WA saat baru saja merebahkan badan di kasur membuat saya terdiam dan terduduk seketika. Tak percaya begitu saja dengan kabar tersebut, saya memilih menghubungi salah seorang yang juga dekat dengan Prof Farid untuk memastikan kabar yang menohok ini.

Setelah benar akan kabar meninggalnya guru besar ini, saya memutuskan untuk langsung menuju ke rumah duka. Sebelum selanjutnya beranjak ke tempat jenazah almarhum dishalatkan dan dikebumikan. Tak dapat dipungkiri, isak tangis tak dapat dihindari oleh para jemaah yang menyalatkan dan mengantar almarhum ke tempat peristirahatan terakhir.

Terasa seperti mimpi, kabar kepergian guru besar berjuluk “Singa Podium Aceh” ini terasa sangat mendadak bagi saya dan bagi seluruh masyarakat Aceh tentunya. Mengapa tidak, hanya berselang dua hari setelah beliau diinformasikan tidak bisa menghadiri jadwal khutbah jumat di Masjid Khairul Ummah, Komplek Kantor Satpol PP-WH Aceh karena kondisi kurang sehat, Prof Farid tiba-tiba dikabarkan harus masuk rumah sakit.

Padahal, selama setahun terakhir saya merekam khutbahnya, saya belum pernah mendengar kabar beliau di rawat di rumah sakit. Bahkan, dari salah seorang terdekat almarhum, Muttaqin, mengatakan bahwa sudah kurang lebih delapan tahun ia dekat dengan Prof Farid ia tidak pernah melihat beliau dirawat di rumah sakit.

Namun, takdir berkata lain, tanpa disadari khutbah Jumat di Masjid Baitussalam, Gampong Ateuk Pahlawan, Kecamatan Baiturrahman, Banda Aceh menjadi rekam jejak dakwah terakhir Prof Farid melalui mimbar yang dapat saya rekam bersama kawan-kawan.

Kendati hanya dalam kurun waktu yang singkat mampu membersamai Prof Farid dalam menyebarkan dakwahnya melalui platform media sosial. Namun, cukup banyak kenangan dan kesan yang mestinya saya alami, tak terkecuali ilmu-ilmu hebat dari sang guru.

Salah satunya ialah cara beliau dalam menyampaikan suatu hal kebenaran, yaitu tegas, jelas, dan tanpa ada rasa takut, tak peduli siapa audiens yang berada di depannya. Seperti halnya pesan beliau yang sering diingatkan dalam dakwah-dakwah khasnya “kebenaran harus disampaikan walaupun itu pahit”.

Sosok yang humoris

Jika dimata kebanyakan orang Prof Farid ialah seorang yang tegas dan terlihat sangat garang (terlebih dalam berdakwah). Maka dari pengalaman, saya pribadi melihat beliau sebagai orang yang juga sangat humble dan humoris (tentunya tak terlepas dari sikap tegasnya).

Sikap humoris beliau pertama kali saya rasakan yakni saat kami (tim perekam video) memperlihatkan hasil khutbah Jumat pertama beliau yang kami rekam pada 3 Juli 2020, di Masjid Baitul Musyahadah. Alih-alih berniat menjelaskan hasil video dengan angle medium dan close up, kami malah mendapat masukan yang memicu tawa.

“Singoeh bek toe-toe that le neucok gamba, nyoe kadeh ngoen-ngoen bule idong lon,” tutur Prof Farid yang diikuti gelak tawa.

Sejak saat itulah pandangan saya perlahan  berubah terhadap sang guru besar yang memiliki kumis melintang itu, yang dulunya saya kira Prof Farid ialah orang yang garang dan begitu tegas, ternyata ia juga orang yang bisa membuat pecah tawa.

Kemudian, tingkah humoris Prof Farid juga sering kami rasakan kala Ia keluar dari Masjid usai mengisi khutbah. Berjalan dengan gaya khasnya menuju ke arah mobil, lalu saat berada di hadapan kami ia tiba-tiba menanyakan “kalian siapa, emang kita kenal?,” tutur Prof Farid.

Tidak hanya itu, saat berdiskusi santai di salah satu kebun miliknya, “lampoeh rusa” kami menyebutnya, karena di kebun itu ada sejumlah rusa. Prof Farid juga kerap melontarkan humor-humor khasnya.

Selain itu, dengan gaya duduk bersila dan ditemani sejumlah teman sejawatnya di lampoeh rusa, saya dan kawan-kawan lainnya juga kerap mendapat berbagai petuah-petuah dan informasi-informasi soal keadaan bangsa ini.

Di Lampoeh rusa ini juga Prof Farid sering menyampaikan bahwa gaya dakwah keras dan tegas yang ia sampaikan selama ini kerap diminta oleh sejumlah pihak agar tidak lagi seperti itu. Bahkan, saking tegasnya gaya ceramah, ada salah satu video khutbah Jumat yang harus kami batalkan tayang. Saat itu ialah rekaman video khutbah Jumat di masjid komplek Pomdam.

Berangkat dari sesi humor sang guru besar yang bersuara lantang itu. Saya pribadi mendapat pengalaman yang membuat diri saya merasa sangat tidak beradab terhadap Profesor yang disegani banyak orang ini. Di mana pada suatu waktu saya sangat membutuhkan Prof Farid guna memperoleh data untuk salah satu tulisan yang sedang saya kerjakan.

Melalui perantara orang lain saya meminta agar bisa menemui langsung dan mewawancarai Prof Farid. Namun, malah Ia dengan mengenakan baju kaos berkerah sederhananya yang datang menjumpai saya khusus untuk melayani pertanyaan-pertanyaan singkat dari saya, dan kemudian langsung kembali beranjak pergi. Saat itu kejadiannya terjadi di warung Hasasya, Lamreung.

Peduli Terhadap Kaum Muda

Suara dengan intonasi tinggi dan lantang menjadi ciri khas sang “Singa Podium” ini dalam berdakwah. Bahkan tak jarang suara itu semakin lantang terdengar saat Ia menyampaikan kegelisahannya terhadap generasi muda saat ini.  

“Zurriyatan Dhi’aafan” (generasi yang lemah) inilah yang Prof Farid tekankan dalam ceramah-ceramahnya yang kerap saya rekam bersama kawan-kawan. Kekhawatirannya terhadap kaum muda saat ini tampak dari raut muka dan nada suaranya yang membuncah.

Tak hanya itu, bahkan ia juga kerap berlinang air mata saat menyampaikan kondisi sebagian pemuda saat ini yang tidak lagi bisa diharap lebih. “Taharap bak pemuda, pemuda gadoeh bak kafe-kafe,” timpalnya dalam ceramah

“Menyoe tatem ayon ngoen ta antok, lam bak jok diteubit nira. Menyoe taduk meutumpok-tumpok, sampe puteh oek han kaya-kaya.” Rangkaian kata-kata ini juga kerap Prof Farid sampaikan di dakwahnya kala mengarahkan isi khutbah kepada kaum muda.

Belakangan ini, sebelum ditimpa sakit dan akhirnya harus menghadap sang Ilahi. Prof Farid disibukkan dengan kegiatan di sejumlah kabupaten/kota di Aceh, yakni mengisi sejumlah acara dan juga ceramah-ceramah.

Tepat pada hari Sabtu, 14 Agustus 2021 Aceh berduka. Banyak orang tak percaya berita akan kepergiannya, bahkan tak sedikit orang yang mengakui bahwa sosok sekaliber Prof Farid ini akan sulit dicari gantinya.

Namun, apa boleh  dikata, Allah lebih mencintai Prof Farid, dan kini Sang Singa Podium itu telah tiada. Aungan lantangmu menyuarakan keadlian akan tetap kami kenang, InsyaAllah surga tempatmu Prof.

Penulis: Tim Media Prof Farid Wajdi Ibrahim.

Total
14
Shares

Tinggalkan Balasan

Previous Article

Foto Feature: Ruangan Tambahan Untuk Merawat Pasien COVID

Next Article

Pelajar Aceh Toreh Prestasi Pada Ajang Debat Internasional

Related Posts
Read More

Kata Gen-Z Soal Vaksin

Wajahnya tertutup masker hitam sambil menenteng beberapa lembar kertas menuju meja skrining. Sesekali ia menyeka rambutnya sembari membuang…