Sirih, Seni Tari, Makanan dan Penghormatan

Penari ranup lampuan sedang beraksi dalam tarian ranup lampuan sebagai bentuk tari penghormatan kepada tamu undangan. Foto: Hotli Simanjuntak/readers.ID

Piyoh….piyoh…piyoh…

Neucok ranup nyoepat hai
Ranup neu pajoh tanda mulia

Peunajoh Aceh meumacam bagoe
Peunajoh jameun sampo ino hat
Ranup seulaseh ngon pineung mawoe
Gapu ngon gambe leungkap keu syarat

Ranup lam bate peumulia jamee
Adat geutanyoe keu jamee teuka
Neuci pajoh sie gapu ile
Ie ranup klat jeut keu peunawa

Piyoh…piyoh…piyoh…piyoh…piyoh

Neu cok ranup nyopat hai
Ranup neupajoh beu jeut keu ubat.

Terjamahan:…

Singgah…singgah…singgah

Silahkan ambil sirih ini
Cicipi sirih ini sebagai tanda mulia

            Makanan Aceh bermacam rupa
            Makanan dari jaman dahulu hingga sekarang
            Susunan sirih dengan pinang yang enak
            Kapur dan gambir sebagai pelengkap syarat

Ranup dalam cerana sebagai pemulia tamu
Adat kami memuliakan tamu yang baru tiba
Silahkan cicipi sekapur sirih lebih dahulu
Air sirih kelat bisa jadi obat

Singgah…singgah…singgah…singgah

Silahkan ambil sirih ini
Cicipi sirih ini sebagai obat.

Bait lagu yang dinyanyikan oleh penyanyi lokal Aceh yang mendunia, Rafly mengisyaratkan bagaimana pentingnya ranup atau sirih dalam perjalanan adat Aceh. Selain sebagai obat, sirih juga dipakai sebagai bagian adat untuk memuliakan seorang tamu.

Ranup atau sirih adalah sejenis tumbuhan  yang dalam bahasa Indonesia dikenal dengan nama sirih. Sebuah tanaman merambat yang tumbuh dikawasan tropika Asia, Madagaskar, Timur Tengah dan Hindia Barat. Dalam ilmu biologi dikenal dengan nama piper betle linn masuk dalam keluarga piperaceae. Sirih tumbuh menjalar dan memanjat pada pohon atau para-para. Daunya lonjong dengan ujung agak lancip, subur jika ditanam di cuaca tropis dan tanah gembur namun cukup air.

Dalam kebiasaan adat istiadat masyarakat Aceh, ranup atau sirih merupakan salah satu media yang di pakai untuk memuliakan tamu. Biasanya selalu di suguhkan dalam setiap pembukaan sebuah acara, acara perkawinan, sunatan, selamatan dan acara-acara lainya. Sirih menjadi lambang formalitas yang memadukan adat dan budaya dalam interaksi masyarakat Aceh sejak dahulu kala.

 

Team penari ranup lampuan sedang bersiap-siap. Foto: Hotli Simanjuntak/readers.ID

Diluar adat istiadat, sirih juga bisa menjadi sebuah cemilan khas bagi orang Aceh. Bahkan banyak orang  menjadi ketagihan makan sirih. Bagi orang yang sudah ketagihan makan sirih, sehari tanpa memakannya serasa hari tidak lengkap.

Untuk menjadi sebuah cemilan siap saji, daun sirih harus diramu dan dicampur dengan bahan-bahan lain seperti kapur sirih, gambir dan pinang. Bahan-bahan ini dicampur dan digulung ke dalam lembaran-lembaran sirih yang berfungsi sebagai pembungkus bahan campuran tadi.

Satu gulungan sirih berbentuk runcing biasanya terdiri dari satu sampai dua lembar daun sirih. Pinang yang digunakan juga harus dari pinang pilihan. Karena terdapat dua jenis pinang biasa atau pinang memabukkan.

Penari ranup lampuan sedang beraksi di panggung. Foto: Hotli Simanjuntak/readers.ID
Penari ranup lampuan sedang beraksi di panggung. Foto: Hotli Simanjuntak/readers.ID

Tradisi makan sirih diyakini sebagai warisan budaya masa silam berumur lebih dari 3000 tahun. Budaya ini ada di Asia Tenggara mulai dari golongan masyarakat bawah, pembesar Negara serta kalangan istana kerajaan tertentu. Namun asal pastinya tidak bisa diketahui secara detail. Itulah sebabnya hampir semua Negara-negara di Asia memiliki tradisi memakan sirih. Mulai dari Thailand, Malaysia, Myanmar, Burma dan Indonesia memiliki kebiasaan ini.

Dalam cerita sastra yang pernah diteliti, tradisi ini datang dari India.  Berdasarkan tulisan pelaut terkenal Markopolo pada abad ke 13, bahwa orang India suka mengunyah segumpal tembakau. Tulisan ini juga diperkuat oleh tulisan penjelajah terdahulu, Ibn Batuta dan Vesco de Gama yang menyatakan bahwa bangsa di wilayah timur gemar makan sirih.

Pada awalnya, sirih bukanlah sebagai bahan makanan bagi masyarakat India. Sirih dipakai sebagai persembahan pada saat sembahyang di kuil-kuil.

Penari ranup lampuan sedang beraksi di panggung. Foto: Hotli Simanjuntak/readers.ID

Kebiasaan menyuguhkan sirih di tengah masyarakat Aceh kemudian dikreasikan ke dalam sebuah tari bernama tari Ranub Lampuan yang berarti tari Sirih dalam Puan. Puan adalah sejenis wadah atau penampang yang di gunakan dalam acara-acara adat di Aceh. Biasanya tarian ranup lampuan  ini ditampilkan saat memulai dan pembukaan sebuah acara dikenal dengan sebutan Ranup Sigapu. Artinya ranup sebagai symbol prosesi atau mengawali sebuah acara atau kegiatan.

Ranup atau sirih melambangkan sikap menjunjung tinggi kehormatan dan kebersamaan hidup dalam satu tempat yang dilambangkan sebuah wadah  yang bernamakan puan

Menyuguhkan ranup bagi tamu. Foto: Hotli Simanjuntak/readers.ID

Tari ranup lampuan merupakan salah satu karya seni yang dilahirkan oleh seniman Aceh. Secara koreografi, tari ini menceritakan bagaimana kebiasaan masyarakat Aceh menyambut tamu dalam setiap acara apapun. Setiap gerakan yang ditampilkan memiliki makna yang berbeda-beda, misalnya memberi salam, memetik sirih, menyapu kapur ke daun sirih, memberi gambir maupun menyuguhkan sirih kepada tamu adalah gerakan khas dari tari ini.

Penari ranup lampuan sedang beraksi di panggung. Foto: Hotli Simanjuntak/readers.ID

Gerakan tari ranup lampuan diawali dengan salam kepada para tamu. Biasanya ditarikan oleh kaum perempuan dengan pakaian indah dan menarik. Setiap penari membawa tempat yang berisi ranup yang nantinya akan disuguhkan kepada semua tamu yang hadir. Kemudian gerakan-gerakan memetik, memoles dan menyapu kapur di lakukan dengan gerakan gemulai para penari wanita. Tarian diakhiri dengan turunya para penari dari panggung menuju setiap tamu sambil menyodorkan tempat berisi sirih.

Sejatinya setiap tamu wajib mengambil sirih yang disuguhkan para penari. Kalaupun tidak dimakan tidak apa-apa. Yang penting menerima pemberian tuan rumah sebagai bentuk penghormata kepada si tuan rumah.

Sirih yang siap disajikan bagi tamu. Foto: Hotli Simanjuntak/readers.ID

Ada kepercayaan bagi masyarakat Aceh bahwa melalui sirih seseorang bisa mengetahui niat buruk atau niat jahat seorang tamu yang disuguhi dengan sirih. Jika sirih yang dicicipi oleh tamu berubah berwarna merah, berarti si tamu memiliki niat baik. Jika tidak berwarna merah maka diyakini tamu tersebut memiliki niat jahat.

Penjual ranup di sekitar Mesjid Raya Baiturrahman Banda Aceh. Foto: Hotli Simanjuntak/readers.ID

Tari ranup lampuan diciptakan oleh seniman Aceh bernama Yulizar sekitar tahun 1959 dengan menggunakan property sehelai selendang dan sanggul Aceh dengan durasi tarian antara 3 – 9 menit. Di iringi dengan music orchestra atau band. Tari ini pada awalnya hanya dikenal masyarakat di Kotamadya Banda Aceh. Namun dalam perjalananya, tari ini segera dikenal di seluruh Aceh. Hampir ke seluruh kabupaten di Aceh.

Ranup siap di komsumsi. Foto: Hotli Simanjuntak/readers.ID

Kini sirih, tari ranub lampuan dan adat Aceh seperti satu kesatuan yang tidak terpisakan. Jika suatu hari anda berkunjung berharaplah anda di sambut dengan sebuah tarian bernama tari ranup lampuan. Jikapun tidak disambut tarian, anda masih bisa menikmati sirih dengan membelinya di  jambo ranup, tepat di samping pintu masuk Mesjid Baiturrahman Banda Aceh.

 

Foto dan teks: Hotli Simanjuntak/readers.ID

Total
1
Shares

Tinggalkan Balasan

Previous Article

Dana Gampong, Korupsi dan Kemiskinan di Aceh

Next Article
Upaya Rutan Kelas II B Banda Aceh Cegah Covid-19

Upaya Rutan Kelas II B Banda Aceh Cegah Covid-19

Related Posts