Siswa Bisa Stres kalau Terlalu Banyak PR Sekolah

Ilustrasi. Terlalu banyak PR picu anak stres. Foto by klikdokter.com

Proses belajar memang tidak hanya di sekolah, bisa juga dilakukan di rumah. Biasanya agar anak tetap belajar saat di luar sekolah dengan memberikan Perkerjaan Rumah (PR) kepada peserta didik.

Guru memberikan PR, selain untuk mendorong anak tetap mau mengulang pelajar di rumah juga bertujuan ahar anak bisa melatih kemampuan serta pemahaman tentang hal yang telah dipelajarinya.

Namun, belakangan ini banyak siswa yang mengeluh karena terlalu banyak menerima PR sekolah. Tidak sedikit pula siswa yang mengatakan bahwa PR yang terlalu banyak itu turut menyita waktunya untuk bermain dan mengeksplorasi lingkungan sekitarnya.

Berangkat dari kondisi tersebut, sebagian orang beranggapan bahwa PR sekolah yang terlalu banyak dapat mengganggu kesehatan mental anak.

Melansir dari healthline, penelitian mengatakan, siswa bisa mengalami stres signifikan ketika diberi beban kerja yang tidak sesuai dengan perkembangannya.

Keadaan tersebut tidak hanya akan dirasakan oleh anak, tapi juga orangtuanya. Hal ini utamanya terjadi ketika orangtua tersebut memiliki pendidikan yang terbatas dan merasa tidak percaya diri dengan kemampuannya dalam membantu anak menyelesaikan PR sekolah.

Senada dengan temuan tersebut, studi lain mendapati siswa sekolah menengah pertama (SMP) juga dapat memiliki tingkat stres serupa lantaran terbebani oleh pekerjaan rumah terlalu banyak.

Tidak berhenti di situ, ada pula penelitian serupa yang dilakukan di Universitas Stanford pada tahun 2013.

Penelitian itu menyatakan bahwa siswa berprestasi yang menghabiskan terlalu banyak waktu untuk mengerjakan PR cenderung mengalami stres, masalah kesehatan fisik, kurangnya keseimbangan dalam hidup, dan keterasingan diri dari masyarakat.

Masih ada lagi studi yang dengan temuan sejenis. Studi ini diterbitkan dalam The Journal of Experimental Education yang menyertakan 4.300 siswa dari 10 sekolah menengah atas (SMA) di California.

Para siswa dimintai pendapat mereka seputar pekerjaan rumah yang diberikan oleh sekolahnya masing-masing.

Hasilnya, lebih dari 70 persen siswa mengatakan mereka sering atau selalu stres karena PR sekolah miliknya. Bahkan, 56 persen siswa menyebut bahwa tugas yang diberikan sekolah untuk PR sebagai pemicu stres utama.

Parahnya lagi, para siswa yang menjawab bahwa PR dapat menyebabkan stres juga mengalami gejala fisik seperti sakit kepala, kelelahan, kurang tidur, penurunan berat badan, dan masalah pencernaan.

Menanggapi temuan dari berbagai penelitian tersebut, Gracia Ivonika, M.Psi., Psikolog mengatakan, sebenarnya tidak bisa digeneralisasi secara pasti bahwa PR sekolah dapat membuat anak stres atau tidak.

Menurut Gracia, hal tersebut karena setiap anak memiliki karakter dan kemampuan belajar yang berbeda-beda.

“Intelligence quotient (IQ), daya tahan kerja, dan gaya belajar setiap anak juga berbeda-beda. Intinya, banyak faktor yang mempengaruhi, meskipun memang sesuatu yang berlebihan itu tidak sehat,” jelas Gracia.

Gracia juga berpendapat, banyaknya PR sekolah dapat membuat anak memiliki waktu istirahat yang kurang. Hal ini kemudian membuat hidup anak menjadi tidak seimbang, antara mengerjakan tugas dengan bersosialisasi.

Peran Orang Tua

Sebelum menyimpulkan efek buruk pekerjaan rumah dapat menyebabkan stres pada anak, orangtua perlu mengevaluasi kembali apa yang membuat si kecil tertekan. Benarkah karena pekerjaan rumah yang berlebihan, atau ekspektasi anak dalam mengerjakan tugas tersebut?

Orangtua bisa membimbing dan mendorong anak untuk mengatur waktu dalam mengerjakan tugas di rumah. Kemudian, jika memang mendapati bahwa PR sekolah anak terlalu banyak, cobalah untuk mendiskusikannya dengan guru di sekolah si kecil.[]

Sumber: klikfokter.com

Total
0
Shares

Tinggalkan Balasan

Previous Article
Foto Vaksinasi Pelayan Publik

Alasan Vaksin CureVac Produk Jerman Gagal Penuhi Standar Vaksin Corona

Next Article

Proses Pemeriksaan KPK Jangan Sampai Menyandera Pemerintah Aceh

Related Posts