Siswa dan Guru Non Muslim di Banda Aceh Tak Diwajibkan Berhijab

Siswa dan Guru Non Muslim di Banda Aceh Tak Diwajibkan Berhijab
Ilustrasi siswa berjilbab. Foto by kumparan

Beberapa waktu Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 2 Padang, di Kota Padang, Sumatra Barat menjadi perbincangan publik.

Pasalnya, sekolah tersebut sempat mengeluarkan kebijakan yang dinilai tidak menghormati keberagaman, yakni mewajibkan seluruh siswi di sekolah tersebut mengenakan hijab, termasuk bagi yang non-muslim.

Kebijakan itu pun menuai protes, terutama dari para orang tua siswa yang non-muslim. Sebab siswa dan guru di SMK Negeri 2 Padang tidak semua beragam Islam.

Berkaca dari kasus tersebut, readers.ID coba membandingkan dengan penerapan kebijakan aktivitas pendidikan di sekolah dalam wilayah Provinsi Aceh, khususnya Banda Aceh sebagai daerah yang menjalankan syariat Islam.

Dinas Pendidikan Kota Banda Aceh tidak ada berencana mewajibkan siswa maupun guru non-muslim untuk mengenakan hijab ketika proses belajar mengajar.

“Jadi saat ini untuk Banda Aceh, kita belum ada sikap dan saya pikir tidak tepat juga jika dilakukan seperti salah satu sekolah di Kota Padang,” kata Kepala Dinas Pendidikan Kota Banda Aceh, Saminan Ismail, saat dikonfirmasi, pada Rabu (27/1/2021).

Adapun alasan tersebut dikatakan Saminan, karena pelaksana syariat Islam yang ada di Aceh hanya diwajibkan bagi pemeluk agama Islam atau umat muslim saja.

“Di Banda Aceh kita sesuai amanah syariah, kita menggunakan jilbab hanya bagi orang-orang yang beragama Islam,” ujarnya.

“Tetapi bagi mereka yang beragam Nasrani atau bukan beragam Islam mereka tidak diwajibkan untuk memakai jilbab,” imbuhnya.

Meski tidak diwajibkan untuk mengenakan hijab, namun sebagian siswa maupun guru yang ada di beberapa sekolah di Banda Aceh, dikatakan Saminan, dengan sukarela terkadang mengenakan penutup kepala tersebut.

Ia mencontohkan, ada beberapa siswa maupun guru yang pernah datang ke Kantor Dinas Pendidikan Kota Banda Aceh mengenakan hijab. Bahkan ketika menghadiri kegiatan yang dibuat oleh dinas.

“Namun dalam keseharian ini, juga ada di antara non muslim mengikuti syariat Islam misalkan dalam rangka menghadiri acara guru, tetapi banyak juga yang tidak mengenakkan dan itu tidak ada batasan,” kata Saminan.[acl]

Total
2
Shares

Tinggalkan Balasan

Previous Article
Cek Midi, Jual Tanah Demi Selamatkan Manuskrip Kuno

Cek Midi, Jual Tanah Demi Selamatkan Manuskrip Kuno

Next Article
Komjen Listyo Resmi Jadi Kapolri

Jokowi Resmi Lantik Komjen Listyo Sebagai Kapolri

Related Posts