Teman Tuli Kopi, Perkenalkan Bahasa Isyarat Lewat Racikan Kopi

Foto: Rianza Alfandi/readers.ID

Bisnis kopi di Indonesia saat ini bukan lagi hal yang lumrah, mulai dari bisnis kecil-kecilan hingga bertaraf Internasional. Perkembangan bisnis kopi kini seolah menjamur dengan mudah di seluruh kota dan semua kalangan.

Teman Kopi Tuli salah satunya, bisnis kopi baru yang dikembangkan oleh kelompok penyandang tunarungu di Koetaradja. Meski sekilas terdengar sangat unik dari namanya, tetapi mereka tampak seperti orang pada umumnya, sangat telaten dan lihai saat meracik kopi di salah satu stan di Festival Kopi Kutaraja, di Amel Convention Hall, Banda Aceh.

Di dalam stand berukuran sekitar 3 x 3 meter tersebut, Tari dan Reza tampak begitu lihai dalam meracik kopi menggunakan mesin. Uniknya lagi, mereka berdua dan sejumlah orang-orang penyandang tunarungu yang ada di stand itu berbicara menggunakan bahasa isyarat dengan menggerakan jari dan gerakan tubuh lainnya.

Tidak ada maksud lebih apalagi jadi orang terkenal, mereka terjun ke dunia kopi hanya bermaksud memperkenalkan bahasa isyarat kepada khalayak umum lewat racikan kopi.

“Tujuan awalnya teman-teman ini memfamiliarkan bahasa isyarat kepada orang-orang. Jadi karena kopi itu sedang tren dan identik sama Aceh, kita berpikir kopi menjadi salah satu jalan masuknya untuk mempromosikan bahasa isyarat,” kata Febby, salah seorang penerjemah bahasa tunarungu kepada Readers.ID, Minggu (28/2/2021).

Reza, salah seorang penyandang tunarungu yang meracik kopi di Teman Tuli Kopi. Foto: Rianza Alfandi/readers.ID

Nyaman dengan Sebutan Tuli

Para penyandang tunarungu yang tergabung dalam Teman Kopi Tuli cenderung lebih nyaman disebut dengan tuli dari pada sebutan tunarungu. Bukan tanpa alasan, mereka merasa tidak dihargai dan seolah dibedakan jika disebut tunarungu.

“Mereka lebih senang disebut teman tuli daripada tunarungu, bisu atau yang yang lain-lain gitu. Kita selama ini mikirnya tuli itu kan kayak kasar mending pakek tunarungu. Tapi menurut mereka itu ungkapan tunarungu kayak ungkapan deskriminasi yang membedakan mereka dengan orang-orang lain,” ujar Febby.

Atas dasar itulah nama Teman Tuli Kopi menjadi nama yang mereka acungkan dalam Festival Kopi Kutaraja. Di stan tersebut mereka tidak hanya menyediakan kopi arabika khas Aceh, melainkan juga mengajak para tamu untuk belajar bahasa isyarat bersama.

“Melalui festival ini menjadi ajang untuk promasi dari Teman Tuli Kopi yang pertama,” sebut Febby.

Kurangnya Lapangan Pekerjaan

Febby mengatakan, kurangnya lapangan pekerjaan tentunya membuat semua orang harus berpikir lebih lanjut dan terarah. Mungkin inilah yang juga dirasakan oleh kelompok penyandang disabilitas di Banda Aceh. Bangkit dari hal itu, mereka mencari celah dengan berusaha mencari jalan keluar melalui bisnis kopi.

“Permasalahan teman-teman tuli ini, mereka lapangan kerjanya sedikit, kesempatan mereka untuk bekerja itu sedikit. Jadi kita mau buka lapangan pekerjaan untuk teman-teman tuli. Jadi akan ada cofee shop nanti yang teman tuli semua bekerja,” jelas Febby.

Tidak hanya berakhir di Festival Kopi Kutaradja, usai festival mereka akan berencana untuk beranjak ke usaha yang lebih besar, yakni coffe shop Teman Tuli Kopi.

“Jadi nantikan di tempat-tempat atau coffe shop teman-teman ini akan kita jadikan sebagai tempat pusat belajar bahasa isyarat gitu. Di mana tempatnya yang bekerja teman-teman tuli semua, jadi mau enggak mau orang-orang yang datang harus berbahasa isyarat atau pakai tulisan. Nanti di ajarin gimana mau memesan kopi atau yang belajar lebih banyak nanti disediakan tempat,” tambahnya.

Total
1
Shares

Tinggalkan Balasan

Previous Article

Marzuki Hasan, Maestro Seudati Aceh yang Mendunia

Next Article

Anak asal Subang Meninggal Dunia Akibat Kecanduan Game

Related Posts