Tepis Stigma Negatif, Napi Rutan Kajhu Ikut Tahfiz Quran

Tepis Stigma Negatif, Napi Rutan Kajhu Ikut Tahfiz Quran
Progam mengaji di Rutan Kelas II B Banda Aceh. Muhammad | readers.ID

Lima pemuda duduk setengah lingkaran di sebuah musalla dalam Rumah Tahanan (Rutan) Kelas II B Banda Aceh. Di hadapan mereka, terletak sebuah Al Quran. Setiap pemuda tadi, membacakan beberapa ayat dari Kalamullah secara bergantian.

Terdengar fasih lantunan ayat-ayat suci yang dilafalkan. Suara meraka menggema ke lingkungan tempat warga binaan tersebut usai dibantu pemancar dari pengeras suara yang ada di musalla.

Di sisi lain, seorang pria paruh baya duduk sendiri sambil memegang sebuah Yasin. Mulutnya terlihat komat-kamit dengan suara berbisik sembari menatap barisan ayat-ayat yang juga memiliki barisan tulisan latin.

Muhammad | readers.ID

Begitulah gambaran program pembinaan kepribadiaan warga binaan Rutan Kelas II B Banda Aceh. Tempat yang dihuni oleh narapidana dan tahanan ini memiliki beberapa progam kepribadiaan bagi penghuninya.

“Di Rutan ini ada dua pembinaan, pembinaan kepribadian dan pembinaan kemandirian. Pembinaan kepribadian itu salah satunya adalah pembinaan keagamaan,” kata Kepala Rutan Kelas II B Banda Aceh, Irhamuddin, saat dijumpai, pada Senin (15/2/2021).

Program pembinaan keagamaan bukanlah kegiatan baru di Rutan ini. Melainkan suatu program yang ada sejak tiga tahun belakangan.

Awalnya, kegiatan yang dijalankan untuk warga binaan tersebut yakni program dayah masuk penjara. Setelah itu mereka melanjutkan pada program penyuluhan dan pengajian secara rutin bagi penghuni rutan.

Demi meningkatkan kereligiusan warga binaan, khususnya bagi para nara pidana, pihak Rutan yang terletak di kawasan Kajhu, Kecamatan Baitussalam, Kabupaten Aceh Besar ini pun menambah sebuah program baru, yaitu tahfiz Quran.

Muhammad | readers.ID

“Dan ketiga ini baru kita tingkatkan lagi dengan tahfiznya,” ujarnya.

Bukan tanpa sebab program yang bekerja sama dengan Kantor Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Aceh Besar tersebut dibuat. Stigma negatif di masyarakat terhadap Rutan dan warga binaan, menjadi alasan mereka selain meningkatkan nilai keagamaan bagi semua penghuninya.

“Latar belakangnya dijalankan program ini karena melihat Aceh identik sebagai Serambi Makkah. Yang mana warga binaannya itu betul-betul harus dibawa ke arah spiritual. Makanya kita bentuk dan kita dirikan pesantren di sini dengan kerja sama Kementerian Agama,” jelasnya.

“Kita bentuk supaya orang-orang Aceh yang memang spiritualnya itu besar. Sehingga mereka ketika keluar jangan dianggap macam-macam lah,” imbuh Irhamuddin.

Program yang bisa dikatakan baru pertama kali dijalankan di Aceh dari seluruh tempat binaan ini, dikatakan Irhamuddin, akan diikuti 15 orang nara pidana di tahun pertama. Tetapi tidak dilarang pula apabila ada nara pidana lain maupun tahanan Rutan yang ingin ikut program tersebut.

Muhammad | readers.ID

Harapan yang sama juga disampaikan oleh Kepala Kanwil Kemenag Kabupaten Aceh, Abrar Zym. Ilmu spritual yang telah didapatkan para warga binaan ketika di dalam rutan, dikatakannya, tidak hanya bermanfaat untuk diri sendiri, namun juga ke khalayak ramai.

“Tujuannya kita berharap setelah keluar dari Rutan ini bagaimana teman-teman atau warga binaan, bisa menjadi contoh di masyarakat dan malah bisa menjadi penyuluh dakwah di tengah-tengah masyarakat,” katanya.

Dalam mensukseskan program religius ini, pihak Kanwil Kemenag Aceh Besar berperan sebagai penyedia tenaga penyuluh, pembimbing, serta guru ngaji di dalam Rutan Kelas II B Banda Aceh.[acl]

Total
7
Shares

Tinggalkan Balasan

Previous Article

Foto Feature: Target Vaksinasi Tenaga Kesehatan Aceh

Next Article
Seorang Nakes di Banda Aceh Masuk Rumah Sakit Usai Divaksin

Seorang Nakes di Banda Aceh Masuk Rumah Sakit Usai Divaksin

Related Posts