TRH Bicara Milenial di Aceh: Menakar Atensi Politik dan Peluang Ekonomi

TRH  Bicara Milenial di Aceh: Menakar Atensi Politik dan Peluang Ekonomi
Sekjen DPP Partai Demokrat, Teuku Riefky Harsya

Menutup tahun 2020, tak ada kesan yang paling dalam bagi nyaris seluruh masyarakat di Indonesia, selain situasi anti-klimaks akibat dibekap Covid-19. Diakui, pandemi telah menggerus berbagai sektor yang menopang kehidupan masyarakat, baik kesehatan, ekonomi, pendidikan dan sosial. Hingga kini, masyarakat pun masih terus berupaya untuk bertahan hidup dengan kondisi yang tidak pasti akibat situasi ini.

Namun, ada satu hal yang patut menjadi perhatian. Dominasi penduduk Indonesia dari generasi milenial (kelahiran tahun 1981-1996) dan generasi Z (kelahiran tahun 1997-2012) justru kian melonjak hingga akhir tahun 2020, seperti terungkap dalam hasil survei Badan Pusat Statistik beberapa waktu lalu.

Untuk generasi Z, lonjakannya mencapai 75,49 juta jiwa atau setara 28 persen total populasi di Indonesia. Sementara milenial berada pada persentase 25,8 persen. Menariknya, kelompok usia produktif menanjak hingga mencapai 70 persen.

Di Aceh, peningkatan penduduk usia produktif juga menemukan alur serupa. Mengacu pada perkembangan kependudukan tahun 2020, jumlah penduduk usia produktif (usia antara 15-64 tahun) di Aceh mencapai 3,4 juta jiwa atau setara 66 persen. Jumlah itu didominasi kelompok umur 15-19 tahun, yaitu sebesar 465.513 jiwa (8,83 persen). Singkat kata, angka ini menyiratkan optimisme.

Seperti diketahui, negara punya peluang besar mempercepat pertumbuhan ekonominya jika didorong dengan dominasi jumlah penduduk di usia produktif. Kondisi ini dikenal dengan istilah bonus demografi. Namun tantangannya, jika tak segera disikapi secara serius, bukan tidak mungkin dominasi itu justru berubah jadi bencana demografi.

Sekjen DPP Partai Demokrat, Teuku Riefky Harsya menyebut Aceh harus segera beranjak memanfaatkan peluang ini.

Ia melihat potensi yang besar dimiliki generasi muda di Serambi Mekkah, sebuah wilayah yang pernah didera konflik puluhan tahun dan ditutup dengan bencana alam Tsunami. Namun, lanjut politisi asal Aceh ini, Aceh terbukti mampu bangkit dengan cepat dan secara politik juga memiliki berbagai kekhususan yang menurutnya pantang disia-siakan.

“Saya merasakan situasi Pemilu 2004, ketika kondisi Aceh masih belum aman saat itu. Peran pemuda sulit menonjol karena kondisi yang mencekam, sehingga kami lebih banyak berinteraksi dengan pemuda di dayah-dayah, karena di sanalah kami bisa berdiskusi dan berkumpul,” ujar Riefky, saat ditemui readers.ID, Sabtu (13/2/2021) di Equinara Horse Sport, Pulo Mas, Jakarta.

Namun situasi perlahan berubah. Berselang waktu, tiba pemilu berikutnya di tahun 2009, situasi Aceh kian dinamis pasca perjanjian damai MoU Helsinki. Ia mengenang, ketika itu kaum milenial mulai terasah jiwa politiknya, apalagi didukung kehadiran partai lokal.

“Mereka juga jadi lebih terbuka setelah hadirnya NGO-NGO pasca Tsunami. Itu lah era baru bagi generasi muda di Aceh. Mereka lebih terbuka, lebih melek politik, dan bisa mendapatkan informasi dari banyak sumber. Jadi lebih dewasa lah,” ujarnya.

Tren positif terus terlihat hingga momen politik tahun 2014, sebagaimana ia menyebutkan, “Wawasan politik anak muda makin matang.”

Namun, era disrupsi membuat dinamika politik anak muda di Aceh kian tertantang. Berjejalnya informasi dan interaksi yang kian lebar di ranah digital, menuntut pendewasaan lebih. Riefky menyebutkan, berbagai aspirasi yang muncul belakangan kerap bernuansa ekstrem, dan sering dilayangkan secara membabibuta.

“Di sini para pemuda perlu lebih bijak, dan penting pula peran generasi di atas mereka untuk membina supaya mereka bisa berpolitik dengan sehat,” imbuhnya.

Optimisme pada potensi anak muda di ranah politik, kata Riefky, sebenarnya juga telah lama diterapkan di Partai Demokrat. Ia menyahuti slogan ‘Muda Adalah Kekuatan’ sebagai komitmen untuk berada di proses itu. Transformasi kepemimpinan muda, ia harap tak hanya konkret di DPP, tapi juga diamini oleh kepengurusan partai di tingkat  daerah.

“Dari 200-an pengurus inti DPP, rata-rata itu berusia 42 tahun. Ini juga bisa dikatakan sebagai partai yang kepengurusannya rata-rata berusia muda. Sosok AHY bahkan bisa dikatakan sebagai ketua umum termuda untuk ukuran partai yang ada di parlemen,” ujarnya.

Kemapanan Ekonomi dan Pondasi Pendidikan

Bicara sektor ekonomi, Riefky menyoroti ketersediaan Dana Otonomi Khusus Aceh yang diperkirakan bakal selesai beberapa tahun lagi. Mengaitkannya dengan peluang demografi Aceh, menurutnya pemerintah perlu segera memikirkan strategi untuk meningkatkan taraf pendidikan dan lapangan pekerjaan bagi generasi mudanya.

“Saya juga sangat sepakat UMKM perlu digenjot. Generasi muda perlu diajak berpikir soal kemapanan atau kemandirian secara ekonomi. Dengan teknologi informasi yang ada saat ini, seharusnya kita bisa berkembang lebih baik lagi,” harapnya.

Ia juga meyakinkan, “di Aceh saya lihat sudah mulai ini. Banyak yang memanfaatkan media sosial. Pemerintah saya harap bisa menyokong semangat para anak muda di Aceh dengan memberi dukungan modal awal, agar mereka bisa berkembang lebih baik.”

Banyak strategi untuk menunjang kreatifitas para pemuda. Namun, tentu pondasinya harus dimulai dari pembenahan di ranah pendidikan mereka. Menurut Riefky, anak-anak di Aceh harus maju secara pendidikan. Apalagi dengan anggaran besar yang dimiliki Pemerintah Aceh setiap tahunnya, masalah ini seharusnya sudah teratasi.

“Program beasiswa misalnya, harus disalurkan secara merata dan tepat sasaran, ini harusnya bisa optimal,” ujar Riefky. Ia yakin, sektor pendidikan memberi pengaruh besar bagi masa depan generasi muda Aceh.

Keyakinan itu pula, kata Riefky, yang memotivasi dirinya untuk menyukseskan Program Indonesia Pintar (PIP) dari Kemendikbud RI sebagai sarana menyalurkan beasiswa terhadap anak-anak Aceh yang ia usulkan beberapa tahun terakhir.

“Sejak kita mulai dari tahun 2014 silam, diperkirakan ada 250 ribu anak yang menerima beasiswa tersebut. Tentunya, kunci keberhasilan penyaluran beasiswa ini adalah pendampingan secara menyeluruh di tiap tahapannya,” pungkas Riefky. [acl]

Total
10
Shares

Tinggalkan Balasan

Previous Article

Dosen Almuslim Bireuen sebut Data Kemiskinan BPS Membingungkan

Next Article

Silang Versi Kemiskinan Aceh

Related Posts