Ulee Lheue, Destinasi Wisata yang Semrawut

Ulee Lheue, Destinasi Wisata yang Semrawut
Kendaraan parkir hingga ke badan jalan hingga objek wisata Ulee Lheue terkesan semrawut, bahkan mengundang kemacetan. readers.ID | Muhammad

Dinda, salah seorang warga Aceh Tamiang yang berkunjung ke kawasan Ulee Lheue, merasa heran melihat banyaknya kendaraan yang parkir sembarangan. Bahkan hingga ke tengah jalan dan terkesan semrawut.

“Kalau parkir, kenapa harus parkir di jalan gitu. Kenapa gak parkir di tempat yang udah disediakan. Udah jalan macet, makin macet yang ada,” keluh Dinda kepada readers.ID, Minggu (31/1/2021).

Ulee Lheue menjadi salah satu kawasan di Kota Banda Aceh yang kerap dikunjungi warga terutama di akhir pekan maupun hari libur. Itu bisa terlihat dari ramainya pengunjung yang datang ke lokasi tersebut.

Maklum saja, tempat yang secara geografis nyaris berada di ujung Pulau Sumatra ini bisa dibilang cocok untuk sekedar bersantai atau refreshing. Selain karena jaraknya yang tak jauh dari pusat kota, di tempat ini juga bisa membuat nyaman dengan panorama alamnya.

Seperti menikmati desiran angin, suara ombak yang bertalun, hingga menyisir keindahan matahari tenggelam (sunset) di antara bukit berhampar laut.

Tak hanya itu, di kawasan Ulee Lheue juga banyak dijajakan jajan untuk menemani santai bagi para pengunjung. Mulai dari jagung bakar, aneka gorengan, air kelapa, hingga kopi jalanan (coffee street).

Meski salah satu destinasi wisata milik Kota Banda Aceh ini kerap dijadikan tempat untuk dikunjungi, namun bukan berarti tidak ada kekurangan.

Amatan readers.ID, di lokasi masih terlihat kurangnya tempat pembuangan sampah sehingga masih ada terlihat beberapa bekas makanan di bahu jalan bahkan di bebatuan yang langsung terhubung ke laut.

Selain masalah sampah, tata kelola tempat parkir di kawasan wisata yang ada di seputaran Pelabuhan Ulee Lheue ini juga masih tidak teratur. Terlihat banyak kendaraan roda dua yang memarkirkan kendaraannya hingga dua barisan di bahu jalan.

Bahkan, beberapa mobil malah terlihat di parkirkan dengan sengaja di bahu trotoar yang ada di bagian tengah jalan. Hal ini tentunya membuat kawasan tersebut akan selalu mengalami kemacetan terutama ketika membludaknya para pengunjung.

Pemandangan kemacetan serupa juga terlihat di kawasan perbatasan antara Gampong Ulee Lheue dan Gampong Jawa tersebut. Banyaknya pedagang yang berjualan di atas jembatan penghubung kedua desa itu kerap membuat warga kesulitan untuk menyeberang atau melintas.

Mengenai semrawutnya kendaraan para pengunjung yang parkir hingga kerap membuat kemacetan di kawasan Ulee Lheue. Kepala Dinas Pariwisata Kota Banda Aceh, Iskandar mengatakan, jika itu bukanlah wewenang mereka meski itu berada di tempat wisata.

Ia menyampaikan, bahwa pihaknya telah membuat lahan parkir khusus yang berada di belakang Ulee Lheue Park. Sedangkan pengelolaan parkir di bahun jalan langsung dibawah pengelolaan pihak kampung dan Dinas Perhubungan Kota Banda Aceh.

“Tentunya mereka harus koordinasi dengan Dinas Perhubungan Kota Banda Aceh, walaupun mereka parkirnya di kawasan wisata namun letaknya berada di jalan raya,” kata Iskandar, ketika dikonfirmasi, pada Senin (1/2/2021).

“Sudah mengupayakan lahan di kawasan Ulee Lheue Park, itu besar lahannya. Itu kita peruntukan juga untuk masyarakat. Mobil banyak juga bisa masuk, kendaraan roda dua juga, dan itu lebih terjamin lagi,” imbuhnya.

Iskandar mengaku hari ini dirinya sedang melakukan pemantauan di lokasi wisata yang terletak di antara Gampong Ulee Lheue dan Gampong Jawa tersebut, telah meminta kepada pihak Satpol PP dan WH Kota Banda Aceh untuk mentertibkan para pedagang yang berjualan di atas jembatan.

“Kita sudah sampaikan supaya menertibkan para pedagang tersebut. Kita harapkan mereka tidak berjualan di atas jembatan tersebut, karena bisa mengakibatkan kemacetan,” ucapnya.

Sehubungan dengan itu, mengenai sampah ia mengaku, bila pemerintah kota telah menyediakan beberapa tong sampah di sejumlah titik di kawasan destinasi wisata Ulee Lheue. Akan tetapi menurutnya, kesadaran warga untuk membuang sampah pada tempatnya masih terbilang minim.

Diperlukan edukasi serta sosialisasi kepada masyarakat untuk menjaga kebersihan dan mencintai lingkungan. Selain itu, ia menyampaikan, perlu peran aktif dari warga lainnya untuk sama-sama saling mengingatkan.

“Karena sudah kebiasaan dari pada masyarakat yang tidak teratur, tidak bersih, sehingga terkadang mereka membuang sampah seenaknya. Ini yang perlu kita tegur,” kata Iskandar.[acl]

Total
2
Shares

Tinggalkan Balasan

Previous Article
OPINI: Ekonomi Syariah Jangan Sampai Dibajak oleh Kapiltalisme

OPINI: Ekonomi Syariah Jangan Sampai Dibajak oleh Kapitalisme

Next Article
Infografis Golongan Orang Tidak Dapat Diberi Vaksin Covid-19

Infografis: Golongan Orang Tidak Dapat Diberi Vaksin Covid-19

Related Posts