OPINI: Wajah Perguruan Tinggi, Muncul Negosiasi Nilai dengan Mahasiswa

By Hanifah Hasnur, S.Pd., SKM., MKM Dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Aceh

Telah banyak sekali terjadi pergesaran prilaku, moral dan tingkah laku mahasiswa di jaman sekarang. Perubahan ini meninggalkan banyak sekali Pekerjaan Rumah (PR) untuk segenap pihak yang peduli dengan perkembangan dunia pendidikan bangsa ini.

Hal ini dirasakan betul oleh segenap civitas akademika terutama yang  berprofesi sebagai dosen. Penulis sempat melakukan riset terlebih dahulu dengan bertanya kepada dosen-dosen lain, bahkan yang mengajar di Universitas Negeri, ternyata banyak yang mengalami hal yang sama.

Setelah Ujian Akhir Semester (UAS) selesai, dosen akan disibukkan dengan sebuah pekerjaan yang tidak mudah walau pada dasarnya tidak berat, yaitu pemberian nilai akhir kepada mahasiswa.

Mungkin kalau dulu,proses pemberian nilai akhir ini hanya menyisakan kelelahan fisik, beda halnya dengan sekarang, pemberian nilai akhir yang akan ditampilkan di Kartu Hasil Semester (KHS) mahasiswa ini akan berbuntut sangat panjang dan melelahkan jiwa.

Mulai lima menit pertama setelah nilai akhir keluar, mulailah masuknya pesan-pesan singkat dari mahasiswa menanyakan mengapa nilainya rendah. Dan mahasiswa sering mendefinisikan selain nilai dalam bentuk huruf A dan AB, lainnya dianggap sebagai “nilai yang rendah”.

Mungkin ini dapat dimengerti, ketika memang nilai yang diberikan tidak sejalan dengan kemampuan mereka, akan tetapi bayangkan bila nilai yang diberikan ini sebenarnya sudah menampilkan hasil nilai yang sebenar-benarnya dan sedikit tambahan bila memang secara moral dan logika masih bisa ditambah.

Yang terjadi selanjutnya, mereka meminta nilai mereka ditambah dengan segala upaya yang bisa mereka lakukan. Menurut hemat penulis, inilah yang terjadi ketika mahasiwa terpaku kepada “goaljangka pendek”, abai dengan tujuan jangka panjang yang semestinya menjadi prioritas mereka selama menempuh pendidikan di Perguruan Tinggi.

Nilai akhir yang semestinya hanya dijadikan sebagai media untuk mengukur kemampuan diri, tidak dijadikan sebagai tujuan akhir dari proses pendidikan yang mereka jalani.

Ada hal besar lain yang jauh lebih penting untuk mereka prioritaskan, nilai dari diri, keilmuan dan kemampuan sebenarnya yangdidapatkan selama belajar Mata Kuliah tertentu dalam satu semester tersebutlah yang semestinya mereka harus pertanyakan kepada diri mereka: “Apa sudah ada ilmu dan kemampuan diri yang bertambah dari hasil mereka belajar satu semesterini?”

Hal ini menjadi penting agar nantinya setelah tamat kuliah, mahasiswa akan cukup percaya diri untuk masuk ke dunia kerja. Meskipun, mungkin nilai di transkrip juga kadang-kadang jadi indikator keberhasilan.

Namun, akan jauh tertinggal nilai tinggi tersebut jika ia tidak mampu menunjukkan kemampuan yang dimiliki apalagi ketika nanti melewati wawancara dan segala tes yang diselenggarakan oleh pemberi kerja yang mau tidak mau akan menampilkan kemampuan yang benar-benar dimiliki oleh mahasiswa tersebut.

Nilai Akhir Semestinya Sejalan Dengan Kemampuan

Pada masa pandemi Covid-19 saat ini, semua Perguruan Tinggi Negeri dan Swasta melakukan sistem pembelajaran secara daring (online), dan otomatis sistematika ujian pun dilakukan secara online.

Sebagian besar dosen menggunakan google form, suatu aplikasi yang berguna sekali sebagai media untuk menampilkan soal-soal ujian terutama soal mulitiple choice, yang kemudian bisa dijawab langsung oleh mahasiswa setelah dosen membagikan link untuk mengaksesnya, dan yang lebih penting google form ini bisalangsung menampilkan jumlah benar dari soal yang dijawabdalam nilai angka.

Dosen juga kadang menggunakan Google Classroom sebagai media ujian untuk beberapa pertanyaan dalam bentuk essay, dimana mahasiswa juga dapat melihat total nilai yang didapat dari soal-soal yang telah diperiksa oleh dosen mereka dan dapat melihat sendiri apabila ada soal yang keliru dijawab.

Hal ini menjadi justifikasi yang sangat kuat untuk para mahasiswa mengukur kemampuan mereka, sudah sejauh mana capaian mereka dalam memahami suatu topik atau Mata Kuliah tertentu.

Minimal sekali, mahasiswa sudah bisa melihat nilai untuk Ujian Tengah Semester (UTS) dan Ujian Akhir Semester (UAS) yang telah mereka kerjakan yang memiliki bobot sangat besar dalam penentuan nilai akhir mereka.

Jadi, sebenarnya tidak etis dan tidak masuk akal, ketika masih ada mahasiswa bertanya, mengapa nilai mereka “rendah” padahal mereka sudah bisa melihat hasil nilai-nilai dari soal-soal yang mereka kerjakan dari tugas, UTS dan UAS yang saat ini lazimnya ditampilkan secara online dan sangat akuntabel serta dapat dipertanggung jawabkan.

Semestinya dari hasil tampilan nilai di google form atau google classroom tersebut mereka sudah tau kemampuan mereka. Ironisnya, mereka masih bertanya mengapa nilai mereka rendah, bukan karena mereka tidak membaca nilai yang tampilkan di google form atau google classroom tersebut, melainkan karena “kebiasaan” dari mahasiswaini yang memiliki keyakinan bahwa nilai mereka masih bisa DINEGOSIASI.

Fenomena Negosiasi Nilai

Dalam perjalanannya, hal ini tidak terjadi serta merta. Ada proses yang dilewati sehingga terbentuklah keadaan yang terjadi saat ini. Negosiasi nilai dianggap menjadi hal yang “wajar” baik oleh mahasiswa atau sebagian dosen, karena dianggap hak-nya mahasiswa.

Namun menurut hemat penulis, hal ini juga terjadi karena “Fakultas” atau “Universitas” memposisikan bahwa nilai mahasiswa menjadi penentubagi Fakultas atau Universitasuntuk mendapatkan akreditasi A sehinga negosiasi dan ubah-ubah nilai yang tidak sejalan dengan kemampuan mereka yang sebenarnya lazim dilakukan.

Ironis sekali jika memang kualitas yang ditampilkan ini “fana”, “tidak nyata” adanya. Nilai menjadi sesuatu hal yang sangat dikejar dan diprioritaskan, melebihi hal-hal lain yang juah lebih penting, yaitu nilai-nilai diri (value) yang bisa dibangun dari diri mahasiswa selama menempuh pendidikan seperti “mental daya juang,” “etika terhadap guru,” dan terakhir “menghargai proses belajar untuk mendapatkan kemampuan atau ilmu itu sendiri.”

Mahasiswa atau dosen jangan sampai terkecoh dengan tujuan jangka pendek. Fenomena, nilai yang bisa dinegosiasi ini dalam jangka panjang bisa saja melahirkan generasi penurus yang tidak bisa menghargai proses, tidak punya daya juang dan abai dengan kemampuan sebenarnyayang mereka miliki karena terlena dengan “nilai fana” hasil negosiasidengan dosen.

Kalau ini terus dibiarkan terjadi, bisa saja, harapan kita bahwa sarjana hasil lulusandari universitas ini bisa menjadi tonggak penyelemat bangsa, mungkin harus kita lupakan. Kita tidak mungkin mengharapkan “sarjana-sarjana” yang tidak punyanilai-nilai dalam diri, tidak menghargai proses, dan tidak punya daya juang ini bisa menjadi generasi yang mampu dan peduli akan permasalahan sosial yang ada di sekitar mereka, terlebih lagi apabila ingin menjadikan mereka sebagai pemikir-pemikir kritis yang bisa merespon akan ketidak adilan yang  ada di depan mereka. Kalau keadaan ini tidak juga diubah, Mustahil rasanya!

By Hanifah Hasnur, S.Pd., SKM., MKM

Dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Aceh

Total
11
Shares

Tinggalkan Balasan

Previous Article

62.320 Masyarakat Aceh Telah Disuntik Vaksin

Next Article

Enam Kabupaten di Aceh Terancam Bencana Ekologi

Related Posts
Read More

Lidah, Ludah dan Telunjuk Komisaris

Lidah merupakan indera pengecap yang terdiri dari sejumlah bagian dan memiliki berbagai macam fungsi. Selain berfungsi sebagai pengecap, lidah juga memiliki beberapa fungsi utama,…