Perempuan Lebih Berdaya Jika Didukung Laki-laki

“Peran perempuan dalam bidang sosial sudah cukup signifikan. Tetapi dalam ranah pengambil keputusan masih harus berjuang dan diperjuangkan,” ungkapnya.

Waktu Baca 10 Menit

Perempuan Lebih Berdaya Jika Didukung Laki-lakiDokumen Pribadi
Kepala Bidang Pemenuhan Hak Anak pada Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Provinsi Aceh, Amrina Habibie, S.H., M.H

Persoalan perempuan makin beragam seiring dengan perubahan zaman dan momentum perjalananya. Perempuan harus terus kuat dan mampu tampil di depan, bukan saja dalam persoalan domestik namun juga peran nyatanya dalam kehidupan keluarga dan karir.

Karena itu dalam mewujudkan eksistensinya perempuan tidak hanya membutuhkan laki-laki sebagai mitra namun juga sebagai support system.

Demikian disampaikan Kepala Bidang Pemenuhan Hak Anak pada Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Provinsi Aceh, Amrina Habibi, S.H., M.H , Kamis (21/4/2022), bertepatan dengan momen Hari Kartini.

Amrina mengatakan, peran nyata perempuan semakin hari semakin baik dalam dalam beberapa aspek, terutama di bidang sosial.

“Peran perempuan dalam bidang sosial sudah cukup signifikan. Tetapi dalam ranah pengambil keputusan masih harus berjuang dan diperjuangkan,” ungkapnya.

Amrina sangat percaya, peran perempuan bila dielaborasikan dengan baik akan memberikan dampak yang cukup baik dan memiliki potensi kebaikan juga. Ia mencontohkan, peran-peran perempuan di sektor pendidikan seperti majlis taklim, bidang kesehatan, keuangan, dan pemerintahan, yang cukup baik sekali. 

“Banyak perempuan yang hebat berperan di ranah pekerjaan yang penting, namun masih dalam batasan bekerja. Sementara pada ranah pengambil keputusan masih sedikit sekali,” kata Amrina lagi.

Suara laki-laki masih sangat dominan dalam semua lini pekerjaan. “Sebetulnya ini tidak menjadi masalah. Namun bila dielaborasi dengan baik, tentu peran-peran perempuan semakin tampak jelas, sekaligus membuka ruang yang luas bagi para laki-laki untuk bisa memberikan kesempatan bagi perempuan agar bisa menjadi bagian pengambil keputusan.

Kualitas dan Jaringan

Amrina menerangkan, dalam perspektif dunia modern yang semakin terbuka luas peluang pekerjaan dan membutuhkan banyak peran Sumber Daya Manusia (SDM) unggul, perempuan adalah bagian dari hal itu. 

Sejauh ini menurut Amrina jumlah dan kualitas peran perempuan sudah diperhitungkan, namun masih sangat perlu dibantu dari sisi networking (jaringan). Jaringan tersebut akan terbuka luas jika peran-peran mereka mulai masuk dalam ranah pengambil keputusan. 

“Jika bicara dalam tahapan ini dukungan laki-laki sebagai support sistem di bidang apapun perempuan bekerja sangat dibutuhkan. Laki-laki sudah bukan saja sebagai mitra, tingkatannya sudah harus naik sebagai support system. Harus ikut memperjuangkan,” tegasnya.

Amrina mencontohkan aktivitasnya membantu dan memfasilitasi Program Kota Layak Anak (KLA) di seluruh kabupaten/kota di Provinsi Aceh selama dua tahun terakhir.

“Selama dua tahun terahir sangat terlihat bahwa perempuan memiliki kekuatan sebagai sumber daya yang hebat untuk menyukseskan program tersebut, tapi masih memiliki catatan khusus yang harus dibantu. Catatan khusus seperti kurangnya keterampilan untuk mempengaruhi, dan mengkomunikasikan apa yang mereka pikirkan untuk dipertimbangkan dalam pemikiran orang lain dalam hal ini adalah laki-laki,” kata Amrina.

Perempuan sebagai pekerja, penggagas dan pelaksana berbagai kegiatan di lapangan jelas sangat membutuhkan kemampuan berkomunikasi “menangkap” ke atas dan “menukik” ke bawah.  Namun kemampuan itu belum bisa tercapai maksimal. Lagi-lagi karena mereka belum banyak di ranah pengambil keputusan.

Di sinilah menurut Amrina, kekuatan dan kemampuan strategi dalam berkomunikasi dan lobi perlu mendapat perhatian dari support system tersebut.

“Banyak perempuan yang pintar, tapi dalam mengkomunikasikan kepada pihak lain masih perlu dukungan. Ini bisa mengurangi sekat yang tebal antara laki-laki dan perempuan. Untuk itu perempuan harus banyak membaca dan belajar agar makin bisa mengimbangi support system-nya,” katanya.

Ia mencontohkan perjuangan R.A. Kartini. Ia bukan hanya berjuang dalam ranah emansipasi, tetapi juga literasi.

“ Tapi zaman sekarang, dari berbegai referensi disebutkan kalau literasi perempuan masih rendah. Meski sudah muncul tapi masih cukup rendah. Ini persoalan yang menjadi tantangan dan harus kita selesaikan bersama,” tegas Amrina.

Rendahnya literasi perempuan menurut Amrina tidak terlepas dari waktu perempuan yang sangat sempit dan cukup sedikit untuk bisa mengakses berbagai ilmu pengetahuan. Ruang domestik masih banyak ditangani kaum perempuan. Namun jika support system-nya memahami, tentu hal ini akan membaik.

“Sebagai muslim dan muslimah kita pasti tahu ayat Al-Quran yang pertama kali Allah turunkan. Iqra. Kita diminta untuk membaca (belajar) atas nama Allah dan menuntut ilmu yang baik. Peran perempuan sebagai “madrasah” pertama bagi anak-anaknya tentu akan terwujud nyata apabila support system-nya juga benar-benar mengambil peran.” 

Para perempuan pun juga harus lebih besar semangatnya untuk belajar dan menyelami dunia literasi. Mereka tidak sebatas ingin tahu terkait hobi saja seperti membaca buku resep dan tanaman, namun juga makin meluas semisal literasi mendidik anak dan mengelola keluarga.

Porsi perempuan dan laki-aki sudah diatur dalam agama dengan jelas. Ada kepala keluarga (laki-laki) ada yang diatur (perempuan dan anak-anak). Meningkatnya kemampuan perempuan akan sangat tergantung kepada support system-nya. “Akarnya ada pada laki-laki,” kata Amrina.

Mencerdaskan Laki-Laki

Melihat kondisi zaman yang sangat dinamis, perempunn sebagai Ibu juga harus mengambil peran nyata dalam mencerdaskan laki-laki.

“Sudah sejak dini harus diajarkan kepada anak laki-laki kita di rumah, bagaimana caranya menghargai dan menghormati neneknya, ibunya, kakak dan adik perempuannya agar nilai-nilai itu bisa tumbuh dengan baik dan bisa diterapkan dalam kehidupannya. Termasuk diajarkan bagaimana  belajar menghormati dan menghargai istrinya (pasangan hidupnya) kelak.” 

Zaman sekarang kata Amrina banyak (lelaki) yang sangat menghormati ibunya, tapi lupa menghormati dan menyayangi istri (pasangannya). Kepada Ibu ia berkata lembut, kepada istri kasar dan sesuka hati berbicara. “Ingat, KDRT itu tidak hanya dalam ranah fisik, tapi juga perasaan dan penghargaan,” tambahnya.

Saat ini kata dia, lelaki dan perempuan sama-sama memiliki tantangan. Tantangannya adalah  mau memikirkan bersama persoalan ini, menggerakkan elemen penting yang perlu digerakkan, diubah, dan dibangun bersama. 

“Harapannya kalau mau negeri ini menjadi lebih baik kita harus sama-sama memikirkan bagaimana memberi perhatian khusus pada anak perempuan tanpa mengabaikan anak laki-laki.”

Amrina menambahkan, satu perempuan cerdas akan menghasilkan banyak sosok cerdas lainnya. Bangun kecerdasan perempuan dan hidupkan budaya mengelola kecerdasan laki-laki dengan mengenalkannya pada fitrah dasarnya sebagai laki-laki, seperti menjaga dan menghormati neneknya, ibunya, kakak dan adik perempuannya serta istri (pasangan hidupnya) kelak. Jika ini terus diperjuangkan, Insya Allah persoalan ini bisa lebih baik dimasa depan.

Komentar

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
Loading...