Bazigha Pingsan Melihat Keelokan Yusuf

“Sesungguhnya itu hanyalah sepercik tanda tentang Dia. Makhluk yang indah hanyalah sekuntum, bunga nan mekar di sebuah taman Allah yang luas tak bertepi. Jika matamu mampu melihat dibalik kesempurnaan itu, tentulah engkau akan melihat bahwa kuntum bunga itu tak lain hanyalah cermin yang memantulkan gambaran wajah-Nya,” ujar Yusuf.

Waktu Baca 6 Menit

Bazigha Pingsan Melihat Keelokan YusufHarian Riau
Ilustrasi

Bazigha, seorang perempuan yang jelita nan kaya raya membuat dirinya jatuh pingsan usai melihat keindahan dan ketampanan Nabi Yusuf bin Yakub AS.

Pada awalnya, Bazhiga hanya menyimpan suatu kekaguman dalam dirinya bahwa terdapat sosok yang tampan dan memesona di negerinya itu. 

Keelokan paras dan tampannya Yusuf menjadi pembicaraan khalayak ramai bagi kalangan perempuan di kota masa itu.

Allah SWT mengisahkan dan mengabadikan nama Yusuf AS secara khusus dalam Al-Quran yakni surat Yusuf (surat ke-12). Munculnya isu kekaguman perempuan berawal dari istri sang raja yang menggoda Yusuf untuk berbuat dosa.

Alhasil, godaan itu patah usai suami sang raja dan menemukan Yusuf berada di depan pintu bilik kamar sang istri. Yusuf di Adili dan sang istri dikecam untuk meminta ampunan karena menuduh Yusuf telah mengajaknya ke jalan dosa.

Kasus tersebut pun tersebar di seluruh kota. Pada tahap selanjutnya, perempuan-perempuan di kota membicarakan cerita istri sang raja dengan Yusuf. 

“Dan perempuan-perempuan di kota berkata, ‘istri Al ‘Aziz menggoda dan merayu pelayannya untuk menundukkan dirinya, pelayannya benar-benar membuatnya mabuk cinta. Kami pasti memandang dia dalam kesesatan yang nyata.’” (Q.S. Yusuf [12] : 30).

Mendengar cercaan itu, tentu membuat istri sang raja ingin membuktikan kebenaran kepada perempuan-perempuan kota. Ia ingin membuktikan bahwa pesona sang pelayanan (Yusuf AS) benar-benar memesona. Ia kemudian mengundang perempuan-perempuan itu ke istana. 

Istri sang raja menyiapkan tempat duduk bagi mereka. Tak hanya itu saja, kepada masing-masing perempuan itu diberi pisau (untuk memotong jamuan) dan menyuruh keluar Yusuf dari balik tirai untuk menampakkan diri Yusuf kepada seluruh perempuan yang hadir.

“…Ketika perempuan-perempuan itu melihatnya, mereka terpesona kepada (keelokan rupa) nya dan mereka (tanpa sadar) melukai tangannya sendiri. Seraya berkata, ‘Maha Sempurna Allah, ini bukanlah manusia. Ini benar-benar malaikat yang mulia.’”. (Q.S. Yusuf : 31)

Demikian pula dengan kisah Bazigha. Awalnya hanya sebatas kagum, namun kemudian muncul rasa penasaran yang amat mendalam ingin melihat seperti apa sosok ketampanan Yusuf. Akhirnya Bazhiga terdorong untuk menemui sang pujaan hati. 

Kesempatan bertemu tersebut, membuat Bazigha tak bisa berkata apa-apa. Perempuan-perempuan yang membicarakan ketampanan Yusuf pun rupanya benar dan nyata.

Mata Bazigha menjadi silau, bibir menjadi kelu. Sorot mata sang pujaan menghujam kalbunya. Kata-kata pun tak mampu mengurai dan melukiskan akan ketakjuban dari sosok Yusuf.  

Tak lama kemudian, Bazigha jatuh pingsan dibuai pesona dan ketampanan Yusuf. Indahnya Yusuf membuat dirinya tak sadarkan diri. 

Bazigha bangun dari puncak terpesonanya Yusuf. Ia kemudian berlutut dan memuja ketampanan serta keindahan Yusuf. 

Yusuf kemudian melangkah mendekati Bazigha. Senyuman yang menawan dan tatapan yang indah memberi nasihat dan mutiara kehidupan bagi Bazigha. 

“Ketika matamu melihat keindahan dunia,” kata Yusuf mengawali nasihatnya itu.

“Sesungguhnya itu hanyalah sepercik tanda tentang Dia. Makhluk yang indah hanyalah sekuntum, bunga nan mekar di sebuah taman Allah yang luas tak bertepi. Jika matamu mampu melihat dibalik kesempurnaan itu, tentulah engkau akan melihat bahwa kuntum bunga itu tak lain hanyalah cermin yang memantulkan gambaran wajah-Nya,” ujar Yusuf.

“Begitulah, Bazigha,” Yusuf melanjutkan kalimatnya.

Pesonaku, kata Yusuf, pada hakikatnya bagaikan kuntum bunga itu; pantulan wajah ilahi. “Namun engkau mesti menyadari bahwa gambar akan memudar, kuntum bunga akan beranjak layu dan pantulan cermin pun akan tertutup oleh cahaya ilahi. Hanya Allah sajalah yang hakiki dan abadi,” jelas Yusuf kepada Bazigha..

Yusuf kemudian melanjutkan, “Untuk itu, Bazigha,” ujar Yusuf, “mengapa engkau membuang waktumu untuk mengagumi sesuatu yang akan lenyap dan pudar. Pergilah langsung ke sumber pesona itu,” ajak Yusuf.

Apa yang terjadi? Bazigha terperangah dengan mutiara indah ucapan pujaan hati. Ia sadar, apa yang dilihat selama ini terhadap Yusuf merupakan bagian pancaran sinar sang Ilahi. 

Sosok yang sempurna di hadapannya ternyata tidaklah hakiki; hanya sekuntum bunga yang akan layu dan pantulan cahaya yang tetutup oleh kebesaran Maha Cahaya; Cahaya di atas cahaya (nur ‘ala nur).

Boleh jadi kita seperti Bazigha, kita terpesona pada hal-hal yang kita inginkan namun pada hakikatnya yang tidak hakiki. 

Komentar

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
Loading...