Bunga Cinta Kartini

Hati seorang Kartini sakit dan merasa kesepian ketika dipingit oleh keluarganya. Dari itu, ia membuka jalan dan merombak adat kebiasaan serta memperjuangkan kedudukan perempuan supaya mendapat pengajaran dan mendapat pekerjaan di luar rumah tangga.

Waktu Baca 7 Menit

Bunga Cinta Kartini
Husaini Algayoni

Oleh: Husaini Algayoni

Allah menciptakan makhluk paling sempurna di muka bumi dengan rasa cinta dan kasih sayang-Nya, makhluk tersebut bernama manusia dengan dua jenis, laki-laki dan perempuan. Allah juga memberikan keadilan bagi keduanya, Allah Al-Ahkam atau Al-Hakim yang artinya Hakim Yang Paling Adil (QS.95:8).

Perempuan makhluk istimewa diberikan kemuliaan dan kehormatan, mempunyai kelembutan dan kasih sayang serta dibalik kelembutannya ada kekuatan yang tak pernah lekang oleh waktu, ketika menjadi seorang ibu dan bahasa paling indah adalah kata ibu.

Laki-laki dan perempuan juga saling melengkapi dalam kehidupan, kedudukannya sama di hadapan Allah tidak ada perbedaan antara keduanya, namun yang terlihat perempuan mengalami pemarjinalan dan ketidakadilan yang diaktori oleh laki-laki yang merasa paling berkuasa di hadapan perempuan.

Allah Maha Pencipta adil kepada makhluk ciptaan-Nya, sementara makhluk Allah bernama laki-laki menciptakan ketidakadilan di muka bumi. Ketika perempuan mengalami ketidakadilan, dimarjinalkan, dan perannya dikucilkan, goresan pena pun tergores dari jari-jemari bertintakan air mata dan darah.

Di dunia Barat, kedudukan perempuan dianggap sebagai makhluk lemah dan tak berdaya telah terjadi sejak 1560-1648. Di Timur, Islam memberikan keistimewaan bagi kaum perempuan. Namun posisi perempuan tersandung adat dan budaya di beberapa negara Islam; diskriminasi hadir yang merugikan perempuan.

Peran perempuan ditutup ruangnya untuk bersuara dan tidak bisa melawan atas kehendak laki-laki yang paling berkuasa. Selain itu juga adat budaya membawa perempuan pada ketertindasan yang menyedihkan dan hilang fitrahnya sebagai manusia normal.

Ketika perempuan mengalami ketidakadilan, lahir pejuang yang membela hak-hak perempuan, seperti Nawal el-Saadawi dari Mesir dengan karyanya “Perempuan di Titik Nol” dan di Indonesia ada Kartini dengan karya masyhurnya bagaikan bunga yang tumbuh dan berbunga tanpa bantuan musim “Habis Gelap Terbitlah Terang.”

Kartini lahir di Jawa pada 1808 dari keturunan terhormat yang memegang teguh adat memingit. Kartini dikekang keterlibatannya berekspresi dan berkreativitas, keberadaannya hanya di rumah dan tidak boleh keluar dari lingkungan rumahnya. 

Penulis tak bisa membayangkan bagaimana perihnya perasaan seorang perempuan ketika dirinya dikekang oleh aturan adat dan budaya yang membatasi ruang gerak sebagai manusia yang seharusnya bebas berekspresi dan berkreativitas. 

Penyair dan pemikir Islam, Sir Muhammad Iqbal memberi motivasi hidup lewat syairnya yang filosofis. Pemikir yang lekat dengan konsep ego ini menyampaikan bahwa hakikat hidup adalah kreativitas untuk menjadikannya bermakna, seperti yang diungkapkan Iqbal di bawah ini:

Tuhan menciptakan dunia dan manusia membuatnya lebih indah

Apakah manusia ditakdirkan untuk menjadi saingan Tuhan?

Kau ciptakan malam, aku ciptakan lentera

Kau ciptakan lempung, aku ciptakan cawan

Kau ciptakan padang pasir, gunung dan rimba

Aku ciptakan kebun, taman, dan hutan buatan

Akulah yang membuat batu menjadi cermin

Akulah yang mengubah racun menjadi obat

Kebesaran manusia terletak pada daya ciptanya

Bulan dan bintang hanya mengulang

Kewajiban yang ditetapkan atasnya.

Nah, perjuangannya tersimpan dalam buku “Habis Gelap Terbitlah Terang” yang dicetak pertama kali pada 1945. Sosok perempuan satu ini menjadi pahlawan bagi perempuan Indonesia lainnya dan setiap 21 April diperingati sebagai Hari Kartini sesuai dengan tanggal kelahirannya.

Perempuan yang peduli terhadap dunia pendidikan, suka belajar, gemar membaca dan menulis. Kartini tahu masih banyak pengetahuan yang dapat dipelajari namun keadaan masyarakat ketika masa itu masih memegang adat istiadat yang tidak membolehkan perempuan berpelajaran dan tidak boleh bekerja di luar rumah.

Hati seorang Kartini sakit dan merasa kesepian ketika dipingit oleh keluarganya. Dari itu, ia membuka jalan dan merombak adat kebiasaan serta memperjuangkan kedudukan perempuan supaya mendapat pengajaran dan mendapat pekerjaan di luar rumah tangga.

Bagi Kartini perempuan harus diberi akses untuk belajar dan punya pendidikan, ketika perempuan berpendidikan maka bisa mendidik anak dan mengurus rumah tangga dengan baik. Hal yang perlu diketahui ialah mendobrak tradisi tidaklah mudah, Kartini melakukan itu dengan perjuangan, walaupun hanya dengan pena. 

Bunga cinta Kartini membebaskan perempuan dari belenggu kungkungan tradisi, perempuan dari tanah Jawa ini memang tidak berhadapan secara langsung dengan penjajah di medan perang dengan mengangkat senjata, tapi Kartini mengangkat peluru pena melawan ketidakadilan.

Perjuangan dan cita-cita dari perempuan bernama Kartini bagaikan bunga yang terus tumbuh dan berbunga di segala musim. Semangat perjuangan Kartini harus diimplementasikan bagi perempuan Indonesia hari ini dalam hal apa pun, baik di bidang pendidikan, politik, dan dalam rumah tangga.

Di kegelapan malam yang pekat, langit berwarna merah menurunkan hujan, air dengan lantunan irama padang pasir, rintikan-rintikan air yang tajam, menyentuh bumi dengan kelembutan. Goresan pena Kartini memang tak seperti peluru, tapi ia bagaikan rintikan air hujan yang membasahi bumi setelah musim kering.

Penulis: Tenaga Pengajar Pesantren Terpadu Semayoen Nusantara, Bener Meriah.

Komentar

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
Loading...