Co-Chair Y20 Garis Bawahi Kekhawatiran Anak Muda Mengenai Krisis Iklim

“Menurut survei internal kami, dari diplomasi anak muda, sebanyak 73 persen generasi muda dari negara-negara anggota G20 khawatir dengan keadaan planet saat ini,” ujar Indra dalam pembukaan pre-summit III Y20 yang dipantau dari Jakarta, Sabtu (21/5/2022).

Waktu Baca 2 Menit

Co-Chair Y20 Garis Bawahi Kekhawatiran Anak Muda Mengenai Krisis IklimAntara
Tangkapan layar Co-Chair Y20 Indonesia Indra Dwi Prasetyo dalam pembukaan pre-summit III Y20 yang dipantau dari Jakarta, Sabtu (21/5/2022). (ANTARA/Aria Cindyara)

JAKARTA, READERS – Co-Chair Y20 Indonesia Indra Dwi Prasetyo menyoroti kekhawatiran generasi muda terkait fenomena perubahan iklim dan berbagai dampak yang dibawa, serta pentingnya perubahan gaya hidup guna menghadapi hal tersebut.

“Menurut survei internal kami, dari diplomasi anak muda, sebanyak 73 persen generasi muda dari negara-negara anggota G20 khawatir dengan keadaan planet saat ini,” ujar Indra dalam pembukaan pre-summit III Y20 yang dipantau dari Jakarta, Sabtu (21/5/2022).

Menurutnya, Y20 merupakan platform dialog dan diskusi bagi para pemuda negara-negara G20, di mana mereka membahas berbagai isu global, termasuk perubahan iklim.

Berdasarkan survei internal itu, kata Indra, sebanyak 64 persen tak yakin bahwa mereka yang berada di posisi pejabat pemerintahan telah memperhatikan kekhawatiran mereka.

“Kekhawatiran ini terjadi di berbagai belahan dunia. Para pemuda di negara-negara dengan pendapatan rendah dan menengah lebih rentan untuk terdampak karena mereka lebih terekspos dengan faktor-faktor berisiko seperti kekurangan akses, jaminan keamanan, dan informasi, saat kejadian-kejadian terkait iklim datang,” paparnya, seperti dilansir dari Antara pada Minggu (22/5/2022).

Oleh karena itu, isu terkait perubahan iklim telah sempat dibahas pula dalam gelaran pre-summit I dan II Y20, dan dalam beberapa tahun terakhir telah ada sejumlah inisiatif pemuda yang mendorong adanya aksi untuk planet yang lebih besar.

“Hari ini, saya menekankan kembali perlunya perubahan itu. Telah semakin jelas bahwa planet kita tak dapat mendukung gaya hidup kita saat ini, termasuk dengan penggunaan sumber daya yang berlebihan dan model ekonomi yang linear,” ujarnya.

Dia pun mengatakan, negara-negara G20 memiliki peran kunci dalam menghadapi krisis alam.

Ada kesempatan untuk mengubah sistem ekonomi kunci menjadi lebih mendukung terhadap planet yang lebih berkelanjutan dan lebih layak untuk dihuni. 

“Ini adalah dekade untuk mengambil langkah, kita harus bertindak sekarang untuk memastikan masa depan yang berkelanjutan, yang inklusif dan setara baik di dalam dan antara negara-negara,” jelasnya.

Sumber:Antara

Komentar

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
Loading...