Do'a Nabi Kepada Pemimpin yang Lembut dan Keras Terhadap Rakyatnya

Author

Waktu Baca 4 Menit

Do'a Nabi Kepada Pemimpin yang Lembut dan Keras Terhadap Rakyatnya
Do'a Baginda Nabi Muhammad kepada Pemimpin yang Keras Terhadap Rakyatnya (Foto: ahlulbaitindonesia)

Islam memberikan toleransi yang kuat bagi pemimpin untuk berlaku adil dan lembah lembut terhadap rakyatnya.

Dari itu, banyak hal dan pelajaran yang menjadi referensi kenapa Islam mengatur hal-hal demikian. Karena memang Islam adalah agama yang damai dan sejuk,oleh karena itu semua aspek yang menyangkut dengan kehidupan juga diatur sedemikian rupa termasuk soal kepemimpinan atau para penguasa kepada rakyatnya.

Kepemimpinan dalam islam memberi ruang yang sangat menarik bagi rakyatnya termasuk soal perhatian dan juga kekerasan.

Jika pemimpin keras terhadap rakyatnya, maka suatu saat nanti juga akan mendapatkan pahitnya balasan-balasan yang diterima pemimpin sebagaimana perbuatan para pemimpin di alam dunia.

Dilansir dari buku Imam Al-Ghazali Adab Berpolitik: Nasihat dan Hikayat untuk Pemimpin dan Penguasa, dijelaskan bahwa Rasulullah Saw memberikan perhatian terhadap kepemimpinan seseorang atau penguasa terhadap rakyatnya yaitu keras dan lembutnya seorang pemimpin.

Misalnya Rasulullah bersabda:

“Setiap penguasa yang tidakj berlaku lembut kepada rakyatntya, niscaya karenanya pada hari kiamat nanti Allah Ta’ala tidak berkenan berlaku lembut kepadanya.”

Tidak cukup sampai disitu saja, Rasulullah Saw juga pernah berdoa kepada Allah Swt agar pemimpin yang keras kepada rakyatnya juga diberi balasan keras pula kepada pemimpin tersebut.

Begitu juga sebaliknya, Rasulullah mendoakan agar pemimpin yang lembut kepada rakyatnya juga diperlakukan dengan lembut.

“Ya Allah, tolong perlakukan lembut setiap penguasa yang berlaku lembut kepada rakyatnya. Sebaliknya, perlakukan kasar setiap penguasa yang berlaku kasar kepada rakyatnya.”

Selain itu, Rasulullah Saw juga bersabda:

"Kekuasaan dan kepemimpinan adalah dua kebajikan bagi orang yang bisa menjalankannya dengan bernar dandua keburukan bagi orang yang melalaikannya.”

Hisyam bin Abdul Malik adalah salah seorang khalifah keturunan Dinasti Bani Umayyah. Pada suatu hari, ia bertanya kepada Abu Hazim seorang ulama besar, “Bagaimana cara mengatur agar bisa selamat dari urusan khilafah?” 

Abu Hazim menjawab, “Anda gunakan uang yang Anda terima dari jalan yang halal dan Anda belanjakan pada jalan kebenaran.”

“Siapa yang sanggup melakukan itu?” tanya Hisyam lagi.

Abu Hazim menjawab, “Orang yang sangat antusias pada kenikmatan surga dan yang takut siksa neraka,”.

Sebelumnya, buku Adab Berpolitik: Nasihat dan Hikayat untuk Pemimpin dan Penguasa yang dikarang oleh Imam Al-Ghazali ini merupakan rekomendasi bagi para pemimpin dan penguasa.

Dijelaskan dalam buku tersebut adalah kitab wajib dan melalui buku tersebut imam Ghazali memberikan nasihat; seorang pemimpin haruslah bermoral tinggi, berakhlak mulia dan tidak berbuat zalim kepada rakyatnya.

Demikianlah sekilas soal sikap pemimpin terhadap rakyatnya yang lembah lembut dan keras. Semoga bermanfaat!

Komentar

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
Loading...