Menjadi Pemuda Seperti Ali bin Abi Thalib

Selain itu juga, bagi penunut ilmu lihat Ali bin Abi Thalib. Dengan melihatnya semangat juang pengembara dan mencari ilmu semakin tinggi dan penuh optimis. Gunakan masa muda sebelum datangnya masa tua, masa muda waktu yang tepat dalam pencarian ilmu sehingga nantinya bisa menjadi pemuda hebat seperti Ali bin Abi Thalib, cerdas dan berpengetahuan luas.

Waktu Baca 7 Menit

Menjadi Pemuda Seperti Ali bin Abi Thalib
Husaini Algayoni

Oleh: Husaini Algayoni

Sepeninggal Rasulullah yang menggantikan roda pemerintahan dan kepemimpinan adalah Abu Bakar Ash-Siddiq, Umar bin Khattbab yang dijuluki sebagai singanya padang pasir dan al-Faruk, Utsman bin Affan, dan pintu ilmu Ali bin Abi Thalib. Keempat sahabat ini dikenal dalam sejarah Islam dengan nama Khulafaur Rasyidin.

Keempat khalifah yang disebutkan di atas mempunyai kelebihan masing-masing, Abu Bakar yang mempunyai sifat lembut dan kasih sayang diumpamakan seperti sifatnya orang tua, Umar yang keras dan tegas diumpamakan seperti jiwa pemimpin, Utsman yang kaya, dan Ali diumpamakan seperti jiwa pemuda yang memotori perubahan.

Ali sosok pemuda pemberani dan gagah di medan perang yang pernah menggantikan posisi tidur Rasulullah ketika musuh mengintai rumah nabi, pemuda yang menaruh cinta sejati pada Fatimah az-Zahra merupakan pemuda cerdas dan berpengetahuan luas tentang masalah keagamaan secara mendalam, ucapan dan nasihatnya memiliki nilai-nilai filosofis.

Ali juga fasih dalam berkhutbah, kefasihan khutbah dan ucapan hikmah filosofisnya dihimpun Sayyid Syarif ar-Rhadi seorang yang setia terhadap ucapan-ucapan Ali, seorang ulama, penyair, dan terpelajar yang menamainya dengan Nahjul Balaghah. Nahj yang berarti cara terbuka jalan, metode atau pola. Balaghah berarti kefasihan, seni, gaya, dan karangan yang bagus.

Ali juga merupakan tokoh pertama kali memfokuskan perhatiannya kepada pemikiran filsafat Islam, sebagaimana diungkapkan Sayyid ar-Rhadi (dalam Mukhtar Latif, 2014: 19) menyebutkan bahwa guru dari semua filsuf Islam adalah Ali bin Abi Thalib, ini tercermin dalam bukunya yang berjudul Nahjul Balaghah. 

al-Rhadi menyebutkan bahwa kumpulan khutbah ini syarat dengan muatan filsafat ketuhanan, metafisika, filsafat etika, filsafat estetika, dan filsafat ilmu pengetahuan alam, ilmu pengetahuan sosial maupun ilmu politik.

Sayid Ali Khamenei dalam bukunya Essence of Tawhid and Lessons from the Nahjul Balaghah, yang diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Fira Adimulya dengan judul Mendaras Tauhid dan Mengeja Kenabian menyebutkan Nahjul Balaghah adalah kumpulan khutbah, surat, aforisme Imam Ali bin Abi Thalib yang dihimpun Sayyid Syarif al-Radhi (970 M). Di dalamnya, ada 239 khutbah, 79 surat dan 489 aforisme pilihan yang merangkum tema beragam.

Pemikir Islam lainnya Murtadha Muthahhari dalam bukunya Glimpses of The Nahj al-Balaghah, diterjemahkan Arif Mulyadi di bawah judul Tema-tema Pokok Nahj al-Balaghah. Adapun tema-tema yang terdapat dalam Nahjul Balaghah sebagai berikut:

Teologi, metafisika, suluk (jalan mistik) dan ibadah, pemerintahan dan keadilan sosial, ahlulbait dan isu kekhalifahan, hikmah dan nasihat, dunia dan keduniaan, heroisme dan kegagahan, kenabian dan eskatologi, doa dan munajat, kritik masyarakat kontemporer, filsafat sosial, Islam dan Alquran, moralitas, disiplin diri dan kepribadian.

Selain yang berkenaan dengan filsafat, Muthahhari juga membedah aforisme Ali dalam kacamata sastra, dengan kata lain unsur sastra dalam Nahjul Balaghah, menguatkan indikasi bahwa filsafat dan sastra memiliki kedekatan dan keterkaitan sehingga karya filsuf seperti Ibn Thufail dengan Hayy bin Yaqdzannya dan filsuf yang menyelam dengan diri sendiri Friedrich Nietzsche dengan pemikiran filosofisnya dalam Sabda Zarathustra erat kaitannya dengan sastra.

Nah, melihat jejak rekam kehidupan menantu Rasulullah ini sebagai pemuda yang dekat dengan ilmu dan literasi yang luas tentunya anak milenial hari ini juga ingin seperti Ali bin Abi Thalib yang cerdas dan mempunyai wawasan yang luas. Menjadi seperti Ali tentunya tak mudah, perlu proses dan usaha untuk meraihnya, satu di antaranya adalah dengan membudayakan literasi.

Satu-satunya kunci untuk maju adalah dengan membaca, dengan membaca pemuda bisa melihat dan menganalisis secara tajam segala peristiwa yang ada. Masalahnya generasi Indonesia hari ini tidak menghidupkan literasi membaca, lebih mementingkan isi perut, fashion daripada isi otak sehingga lahir generasi-generasi yang stunting otaknya, dangkal dan tumpul cara berpikir.

Selain itu juga pemuda harus membaskan pikiran dari pemikiran yang jumud, kolot, sempit, dan picik. Pemikiran jumud ini merupakan sebab kemunduran umat Islam. Dari itu pemuda maupun mahasiswa di manapun berada yang merupakan bagian dari generasi perubahan bangsa sekiranya tidak berada dalam kejumudan.

Pemuda yang kreatif adalah pemuda yang membuka cakrawala pemikiran, mencari ilmu dan menghidupkan daya imajinasi yang ada pada dirinya. Dengan demikian pemuda bisa merubah dan menciptakan sesuatu bahkan tanpa gelar atau titel sekalipun, karena hari ini banyak orang yang bertitel tanpa kualitas dan banyak juga orang berkualitas tanpa titel.

Selain itu juga, bagi penunut ilmu lihat Ali bin Abi Thalib. Dengan melihatnya semangat juang pengembara dan mencari ilmu semakin tinggi dan penuh optimis. Gunakan masa muda sebelum datangnya masa tua, masa muda waktu yang tepat dalam pencarian ilmu sehingga nantinya bisa menjadi pemuda hebat seperti Ali bin Abi Thalib, cerdas dan berpengetahuan luas.

Penulis: Tenaga Pengajar di Pesantren Terpadu Semayoen Nusantara, Bener Meriah.

Komentar

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
Loading...