Rokok Mengancam Bonus Demografi 2030

Waktu Baca 20 Menit

Rokok Mengancam Bonus Demografi 2030
ilustrasi. Foto by nakita.id

Bonus demografi Indonesia diperkirakan akan berakhir pada 2030 mendatang. Sebelum itu tiba, bangsa ini perlu mempersiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) berkualitas menghadapi era metaverse. 

Namun Indonesia dihadapkan masih tingginya usia remaja dan pelajar merokok. Kondisi ini tentunya cukup berpengaruh terhadap kesehatan generasi penerus dalam menghadapi bonus demografi 2030 mendatang.

Padahal sejumlah pengamat teknologi memperkirakan bahwa metaverse akan menjadi era baru dari teknologi internet. Manusia bakal hidup di dua alam, alam nyata dan virtual yang seakan-akan nyata. Untuk menghadapi era teknologisasi itu membutuhkan SDM yang handal.

Bayangkan ada sebuah dunia virtual 3D yang bisa dijelajahi menggunakan kacamata realitas virtual. Di dalamnya, manusia bisa memilih representasi visual (avatar) yang diinginkan. 

Misalnya, seseorang memilih untuk menggunakan avatar berupa sosok lelaki yang tinggi besar dengan suara yang berwibawa. Padahal, mungkin gambaran itu sangat bertolak belakang dengan fisik di dunia nyata.

Dunia yang semakin canggih ini, tentunya bangsa Indonesia harus mempersiapkan bonus demografi yang handal. Sehingga saat dunia sudah benar-benar berada di era metaverse, generasi muda kedepan tidak mengalami gagap teknologi.

Bonus demografi atau Demographic Dividend  suatu kondisi populasi masyarakat akan didominasi oleh individu-individu dengan usia produktif. Usia produktif yang dimaksud adalah rentang usia 15 hingga 64 tahun.

Dalam upaya Indonesia meningkatkan kualitas SDM tersebut, Indonesia tengah dihadapkan masih tingginya perokok remaja usia sekolah. Kondisi ini tentunya akan berpengaruh terhadap kesiapan bangsa ini menghadapi bonus demografi pada 2030 mendatang.

Parahnya lagi, laporan Global Adult Tobacco Survey (GATS) 2011 menyebutkan, Indonesia salah satu negara dengan prevalensi perokok tertinggi di dunia. Yaitu 67 persen laki-laki merokok dan 87 persen orang dewasa terpapar asap rokok di rumah.

Sedangkan, hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 juga menunjukkan prevalensi merokok di bawah usia 10-18 tahun adalah 9,1 dan 22 dari 100 remaja usia 15-19 tahun telah merokok.

Sedangkan data lain dari Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) menunjukkan, 18,8 persen pelajar usia 13 sampai 15 tahun adalah perokok aktif, lalu 57,8 persen pelajar perokok aktif, serta 60 persen tidak dicegah ketika membeli rokok.

Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Kesehatan dan Pembangunan Kependudukan (Kemenko PMK) drg. Agus Suprapto, M.Kes mengatakan bahwa remaja merokok dapat menjadi menjadi ancaman serius bagi masa depan bangsa.

"Rokok ini menjadi ancaman besar bagi kita. Salah satu yang harus kita cegah adalah bagaimana mengatasi masalah konsumsi rokok pada remaja," ujarnya saat mewakili Menko PMK Muhadjir Effendy saat menjadi pembicara kunci Serial Diskusi Refleksi Pengendalian Tembakau di Indonesia yang diadakan Aliansi Jurnalis Independen secara daring, Rabu (27/1/2021).

Menurut Agus, kebanyakan remaja belum memahami bahaya rokok sehingga masih mencoba rokok, baik rokok konvensional maupun rokok elektrik. Hal ini juga yang menjadi tantangan dalam mewujudkan SDM unggul dan berdaya saing.

Padahal, salah satu indikator keberhasilan pembangunan SDM di dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024 adalah penurunan persentase merokok usia 0-18 tahun dari 9,1 menjadi 8,7 pada 2024.

Agus juga menyebutkan, hasil studi PKJS UI tahun 2018 menunjukan bahwa anak yang dibesarkan oleh orang tua yang merokok memiliki kemungkinan 5,5 kali lebih besar untuk menjadi stunting. 

Karenanya,Agus berpesan perlu mendapat perhatian para orangtua agar tidak mencontohkan hal yang kurang baik seperti merokok di dalam rumah.

Dalam upaya mencegah usia remaja dan pelajar menjadi perokok aktif. Selain meningkatkan pemahaman tentang bahaya rokok baik untuk remaja maupun orang dewasa. Memperluas ruang atau area Kawasan Tanpa Rokok (KTR) dapat mengubah perilaku masyarakat untuk hidup sehat serta mewujudkan kualitas udara yang bersih, bebas dari asap rokok.

Pemerintah daerah, memiliki kewenangan menetapkan KTR  melalui Peraturan Daerah (Perda) maupun Peraturan Kepala Daerah (Perkada). Data dari Kementerian Kesehatan, sekarang sudah ada 397 kabupaten/kota atau 77,2 persen seluruh kabupaten/kota di Indonesia yang sudah memiliki peraturan daerah tentang KTR.

Sementara di Provinsi Aceh, yang sudah ada Perda (Qanun) maupun Perkada tentang KTR sebanyak 19 kabupaten/kota. Masih terdapat 4 daerah yang belum memiliki, yaitu Kabupaten Pidie Jaya, Aceh Selatan, Aceh Tamiang dan Kota Lhokseumawe.

Sedangkan tingkat Provinsi sudah mengatur KTR dalam Qanun Nomor 4 Tahun 2020 yang bertujuan untuk melindungi kesehatan masyarakat dari paparan asap rokok. Akan tetapi qanun tersebut saat ini masih dalam proses sosialisasi.

“Qanun KTR Aceh sekarang ini masih dalam tahap sosialisasi,” Saiful Ahmad dari The Aceh Institute yang menjadi narasumber pada kegiatan Media Briefing “Qanun KTR Aceh, Ho Ka Troh?”, Jumat (17/12/2021) di kantor Lensakita.com.

Dalam diskusi tersebut mengemukakan bahwa selain memperkuat KTR di ruang publik, kesadaran individu untuk memproteksi dari paparan asap  rokok harus ditingkatkan. Seperti disampaikan Zulkarnaini Masri, Koordinator Forum Jurnalis Lingkungan (FJL) Aceh, dia mengaku membuat peraturan sendiri di dalam rumah tidak boleh ada yang merokok. Hal ini untuk mencegah paparan asap rokok yang dapat mengganggu kesehatan anak-anaknya.

Begitu juga dengan Khalis, jurnalis Antara di Aceh menjelaskan tidak mengizinkan bila ada yang merokok dalam kamarnya. Tak pandang bulu, Khalis mengaku orang tuanya sendiri juga pernah melarang saat merokok di ruang pribadinya.

Tentu kesadaran secara individu dirasa tidak cukup. Agar kampanye mengurangi anak remaja dan pelajar menjadi perokok aktif maupun pasif. Dibutuhkan intervensi dari pemerintah dengan membuat regulasi dan penegakan yang tegas.

Saiful Ahmad menyebutkan, salah satu upaya yang harus diperjuangkan adalah penguatan pelaksanaan KTR.  Ia mencontohkan, Kota Banda Aceh dan Kabupaten Nagan Raya merupakan daerah yang menjadi leading local government dalam penegakan kebijakan KTR.

“Penegakannya harus dimulai dari pemerintah itu sendiri. Kota Banda Aceh ini patut didukung, lebih maju, setiap SKPD (Satuan Kerja Pemerintah Daerah) sudah mulai diterapkan,” jelasnya.

Menurut Saiful, kehadiran KTR di setiap daerah untuk membuat keseimbangan antara perokok dan yang belum merokok. Terutama di ruang publik, bagi yang tidak merokok bisa menghirup udara segar yang tidak terpapar dengan asap rokok tersebut.

Selain kehadiran KTR untuk menekan angka perokok usia remaja dan pelajar. Pengaturan iklan rokok di lokasi-lokasi umum dan berdekatan dengan sarana pendidikan harus dicegah. begitu juga iklan di berbagai platform lainnya, seperti televisi, media daring maupun media cetak.

“Harus ada (juga) kebijakan iklan rokok jauh dari lingkungan sekolah,” ungkap Saiful.

Menurutnya, penting iklan rokok ada berjarak dengan lembaga pendidikan untuk mencegah perokok pemula. Karena yang terpenting saat ini mencegah sejak dini bagi remaja atau anak sekolah yang belum tersentuh dengan rokok.

“Jadi strategi diubah sekarang, mencegah yang belum merokok,” jelasnya.

Menurut data dari London School of Public Relations (LSPR), terpaan iklan rokok melalui media online memiliki hubungan yang kuat dengan perilaku merokok. Kemenko PMK pun telah melakukan berbagai upaya pengendalian konsumsi tembakau diantaranya dengan cara physical and nonphysical.

“Kami di Kementerian sudah melakukan berbagai macam upaya dalam melakukan pengendalian konsumsi tembakau, baik melalui peraturan physical dan nonphysical,” kata Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Kesehatan dan Pembangunan Kependudukan, Kemenko PMK, drg. Agus Suprapto, M.Kes.

Ia mengungkapkan, langkah physical yang dilakukan diantaranya penyusunan tarif cukai dengan menjaga affordability harga agar tidak terjangkau perokok pemula, penyederhanaan struktur tarif, dan melakukan kebijakan mitigasi. 

Kebijakan mitigasi tersebut mengatur 50 persen Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT), digunakan untuk program kesejahteraan masyarakat, termasuk mitigasi dampak kenaikan cukai bagi petani tembakau dan buruh pabrik rokok.

Sementara itu kebijakan non physical yang dilakukan diantaranya, mengembangkan lingkungan sehat dan pelaksanaan regulasi kawasan tanpa rokok di daerah, memperluas layanan berhenti merokok dengan target 40 persen faskes di tingkat I di 300 kabupaten/kota, memastikan bansos tidak digunakan untuk membeli rokok. 

Selain langkah-langkah yang telah dicanangkan di atas, Agus juga mengatakan bahwa ini menjadi peran bersama dalam mengedukasi keluarga sendiri, khususnya yang masih berusia remaja agar tidak terpapar dengan rokok.

Meski sudah mengetahui dampak dan bahaya dari rokok, pada kenyataannya masih banyak sekali orang yang merokok dan tidak menghiraukan berbagai macam risiko kesehatan yang bahkan sudah tertulis dengan jelas di tiap bungkus rokok.

Data dari Kementerian Kesehatan RI menunjukkan bahwa sebanyak 80 persen perokok di Indonesia sudah mulai merokok sejak masih berusia di bawah 19 tahun. Padahal, dampak rokok bagi anak-anak dan remaja nyatanya sangat serius, bahkan dapat menyebabkan kematian pada beberapa kasus parah. 

Dokter Spesialis Asma & Paru RS EMC Sentul, dr. Deva Bachtiar, Sp.P menulis di EMC Health Care, ada beberapa dampak  kesehatan yang dapat dialami jika seseorang merokok sejak usia remaja.

Paru-paru Berhenti Berkembang

Memulai kebiasaan merokok terlalu dini sangat berpengaruh terhadap perkembangan paru-paru. Rokok menyebabkan gangguan pada pertumbuhan serta perkembangan paru pada anak-anak dan remaja yang dapat menimbulkan masalah kesehatan kronis saat mereka beranjak dewasa. 

Contohnya akan timbul penyakit yang sering dikenal dengan nama PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronik).

Saat kebiasaan merokok pada anak-anak dan remaja berhasil dihentikan, ada kemungkinan paru-paru mereka dapat kembali berkembang. 

Namun, sebuah riset menyatakan bahwa jika seorang anak merokok selama 20 hari, maka dampak buruk terhadap paru-parunya sama seperti seseorang yang telah merokok selama 40 tahun dan ia pun lebih berisiko menderita kanker paru.

Gejala Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah

Tak hanya menghentikan perkembangan paru-paru, perokok pada usia remaja juga dapat menyebabkan kerusakan sistem peredaran darah yang akan berangsur semakin parah saat ia tumbuh dewasa. 

Ketika ia memasuki usia dewasa, bukan tidak mungkin berbagai penyakit dapat terbentuk, seperti penyakit jantung koroner yang resiko terkenanya 2-4 kali, aterosklerosis, gagal jantung, serangan jantung, hingga stroke. 

Penyakit-penyakit ini adalah penyebab utama dari kematian muda yang cukup tinggi terjadi di seluruh dunia.

Penelitian terhadap 20 juta orang selama beberapa tahun menunjukkan terjadi peningkatan prevalensi infark miokard dan penyakit jantung koroner (PKJ) pada orang yang aktif merokok sebesar 70% dibanding orang yang tidak merokok.

Kerusakan Gigi

Merokok adalah penyebab utama dari gangguan kesehatan gigi dan mulut. Hampir setengah dari infeksi yang terjadi di mulut terjadi kepada para perokok aktif dengan rentang usia di bawah 30 tahun. 

Sebuah riset juga membuktikan hal yang sama, yaitu perokok aktif yang berusia sangat muda memiliki lebih banyak karies, plak, serta berbagai infeksi gusi dan mulut dibandingkan dengan anak seusianya yang tidak merokok.

Masalah pada Otot dan Tulang

Penelitian dalam lingkup yang cukup besar dilakukan di Belgia dan melibatkan sebanyak 677 remaja. Dari penelitian ini diketahui bahwa remaja yang sering merokok memiliki kepadatan tulang yang rendah serta mengalami penurunan puncak pertumbuhan yang seharusnya terjadi pada usianya. 

Sama dengan penelitian sebelumnya, penelitian yang mengikutsertakan 1000 remaja laki-laki di Swedia menemukan bahwa kelompok yang merokok mengalami kerapuhan tulang dan mengurangi kepadatan atau densitas tulang pada bagian tulang belakang, leher, tengkorak, serta pada tangan dan kaki.

Kanker

Rokok mengandung senyawa karsinogen yang dapat menginduksi mutasi atau pembelahan sel pada level DNA sehingga dapat menyebabkan kanker. Kanker paru merupakan kanker utama yang disebabkan oleh kebiasaan merokok.

Selain kanker paru, rokok juga dapat menyebabkan kanker mulut, laring, oro dan hipofaring, esofagus, lambung, pankreas, hati, usus besar, ginjal, kandung kemih, testis, serviks dan leukemia.

dr. Deva Bachtiar, Sp.P menyarankan ada baiknya para orang tua tidak memberikan contoh yang buruk seperti merokok di depan anak dan lebih memperhatikan lingkungan di sekitar anak supaya mereka tidak terjerumus ke pergaulan yang berpengaruh buruk. 

“Mari cegah kebiasaan merokok sejak dini agar tidak berdampak parah terhadap proses pertumbuhan anak di kemudian hari,” tukasnya.[]

Persentase anak Indonesia berusia 10-18 tahun yang merokok terus menurun dalam kurun 2018-2020. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), persentase anak berusia 10-18 tahun yang merokok mencapai 9,65% pada 2018. 

Angkanya kemudian menurun menjadi 3,87% pada setahun setelahnya. Pada 2020, persentase anak berusia 10-18 tahun yang merokok kembali merosot menjadi 3,81%.

Secara rinci, anak berusia 10-12 tahun yang merokok sebesar 0,13%. Di usia 13-15 tahun, ada 1,64% anak yang merokok. Sedangkan, anak berusia 16-18 tahun yang merokok mencapai 10,07%. 

Berdasarkan jenis kelaminnya, 7,68% anak berusia 10-18 tahun yang merokok merupakan laki-laki. Persentase itu lebih banyak dibandingkan anak perempuan berusia 10-18 tahun yang merokok.

Sumber Databoks

Komentar

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
Loading...