Tragedi Nol Buku

Waktu Baca 10 Menit

Tragedi Nol Buku
Husaini Algayoni.

Oleh : Husaini Algayoni*

Pada 1965 Indonesia mengalami peristiwa politik mencekam, dikenal dengan vivere pericoloso (hidup penuh bahaya). Kemudian 1997 Indonesia mengalami tragedi dalam dunia pendidikan yang membuat hati terkoyak, penyair Taufik Ismail menyebutnya dengan istilah “tragedi nol buku” sebuah tragedi membuat buku menangis tanpa dibaca. 

Penyair ternama Indonesia ini menyebutnya “tragedi nol buku” karena siswa Indonesia tidak membaca dan tidak menulis, siswa “rabun membaca” dan “pincang menulis” yang merupakan hasil penelitiannya ke SMA di 13 negara tentang kewajiban membaca buku pada 1997.

Hasil penelitian Taufik Ismail menunjukkan Amerika Serikat menduduki peringkat pertama dalam kewajiban membaca buku sastra bagi siswa SMA dengan 32 judul, sementara siswa SMA di Indonesia tidak memiliki kewajiban membaca buku sastra. Karena itu, penyair ini menyebutnya sebagai tragedi nol buku. (Jon Darmawan, Krisis Literasi dan Tragedi Nol Buku, Serambi Opini, 28/01/2019).

Tragedi ini sangat miris karena tidak ada buku yang wajib dibaca sehingga krisis literasi, bahkan beberapa survei menyebutkan minat baca masyarakat Indonesia sangat rendah. Minat membaca yang rendah, siapa yang disalahkan? Lembaga pendidikan, guru, pemerintah atau menyalahkan diri sendiri yang tidak menjadikan membaca sebagai budaya dalam kehidupan.

Tak usah salahkan lembaga pendidikan, guru atau pemerintah. Untuk yang satu ini, coba tunjuk diri sendiri; apakah sudah menjadikan membaca sebagai budaya kehidupan? Tak perlu lihat masyarakat secara umum, lihat dulu para siswa dan mahasiswa; apakah sudah menjadikan membaca sebagai kegiatan sehari-hari? Apakah buku sudah dijadikan sebagai menu utama dalam memperkaya khazanah pengetahuan?.

Begitu juga dengan penulis ketika belum menemukan definisi yang cocok untuk buku karena belum menyatu dalam jiwa layaknya sufi Abu Yazid al-Bustami dengan paham al-ittihadnya yang menyatu antara dirinya dengan Allah atau belum jatuh cinta kepada buku layaknya cinta Rabiah al-Adawiyah kepada Allah. Abu Yazid dan Rabi’ah merupakan cinta dalam kategori cinta ketuhanan yang berada dalam maqam tertinggi dari ajaran sufi.

Belum menemukan definisi apa itu buku? Bahkan buku seperti barang asing dan aneh untuk dipegang serta sesuatu yang tak dianggap dalam kehidupan, status sebagai seorang penuntut ilmu namun tak dekat dengan buku; sungguh tragis, pilu dan menyedihkan! Buku hanya dibaca ketika ada keperluan tugas dari guru, membaca buku ketika ada ujian dan itu pun terpaksa untuk dibaca.

Buku belum terpateri dalam jiwa dan hati belum jatuh cinta bersama buku, maka tidak tahu manfaat dan apa buku itu sebenarnya? Bersahabat dengan orang yang gemar membaca ternyata membawa dampak signifikan bagi penulis, betapa tidak; setiap ada pameran buku pasti pergi jalan-jalan bersama-sama. Ketika sahabat yang gemar membeli dan membaca buku, maka penulis pun mencoba membeli buku dan berdiskusi dari buku-buku yang telah dibaca.

Selain itu, buah dari patah hati atau cinta yang tak bertasbih memberi warna tersendiri dalam sejarah kehidupan. Lihat saja Kahlil Gibran berawal dari patah hati karena cinta pada wanitanya tak sampai sehingga melahirkan maha karya sastra yang bernilai tinggi. Jika filosof Ibnu Bajjah dalam filsafatnya manusia menyendiri untuk mencapai kebahagiaan, maka menyendiri orang patah hati untuk menenangkan hati dari segala siksaan cinta yang tak sampai.

Menyendiri dalam ruang sunyi ditemani dengan buku yang mempunyai makna dan hikmah, terurai lewat kata-kata dalam lembaran kertas memberikan aura positif dan penawar luka, dengan sentuhan kata-kata yang maha dahsyat menggerakkan pikiran dan bangun dari keterpurukan cinta dengan tetesan keringat dan air mata. Walaupun tak bernafas, namun buku hidup dan bisa membangkitkan jiwa-jiwa yang galau dan gersang menuju move on and no more galau. 

Ungkapan Aidh Al-Qarni di bukunya La Tahzan merupakan ungkapan wajib yang selalu diingat ketika membaca buku, Al-Qarni mengatakan “Membaca buku adalah hiburan bagi orang yang menyendiri, munajat bagi jiwa, dialog bagi orang yang suka mengobrol, kenikmatan bagi yang merenung dan pelita bagi yang berjalan di tengah malam. Kenapa diharuskan untuk membaca? Karena buku mengandung faedah, tamsil kebijaksanaan, cerita dan hikayat yang sangat unik”.

Begitu juga dengan penulis mentamsilkan buku menjadi kawan disaat-saat sulit, pengingat dan penyemangat di saat hati sedang lemah.

Dari pengalamanan hidup yang dilewati serta seiring berjalannya waktu, penulis mendapatkan nikmat dan lezatnya dari membaca. Bagi penulis membaca buku memberikan kebahagiaan tersendiri, menggenggam buku dan membacanya terasa indah karena setiap kata-kata yang dibaca menambah wawasan, menggerakkan dan menajamkan pikiran, belum lagi novel-novel penggugah jiwa dan motivasi sebagai teman ngobrol yang mengasyikkan.

Romantis antara bunga dengan siraman air serta sinaran cahaya matahari, melahirkan bunga-bunga bermekaran dengan warna-warni yang memberikan pesona dan keindahan bagi mata. Begitu juga romantis antara jiwa dengan buku telah tersemai ikatan cinta dalam membaca maka melahirkan kebahagiaan dan tulisan-tulisan hasil dari membaca buku.

Jika membaca menajamkan pikiran lewat buku yang dibaca, maka menulis mengasah pikiran lewat goresan pena yang ditulis. Setiap kata yang ditulis merupakan buah dari kreativitas, ide, dan perenungan-perenungan mengolah informasi/pengetahuan. Menulis juga mengikat pikiran agar tak lepas dan mudah lupa begitu saja, sebagaimana yang dikatakan Imam Syafi’i bahwa “Ilmu itu buruan dan tulisan itu ikatnya, maka ikatlah buruanmu itu dengan tali yang kuat”.

Senada dan seirama antara hati dan buku telah tersemai ikatan cinta maka membaca merupakan suatu kebahagiaan yang dapat menumbuhkan minat baca sehingga tak ada lagi tragedi nol buku yang menyayat hati dalam dunia pendidikan. Dari itu, untuk bisa membelenggu tragedi nol buku tersebut menjadikan membaca buku sebagai budaya dan aktivitas yang wajib sehari-hari.

Kembali kepada penelitian Taufik Ismail pada 1997 lalu yang disebutnya sebagai “tragedi nol buku”. Bagi sekolah yang mewajibkan siswanya membaca buku dengan jumlah tertentu; maka bebaslah “tragedi nol buku”. Sementara bagi sekolah yang tidak mewajibkan siswanya membaca buku dengan jumlah tertentu, dipastikan sekolah tersebut sedang terjadi badai “tragedi nol buku”.

Penulis, Kolumnis Gayo.

Editor:

Komentar

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
Loading...