Bumbu Meurasa Asal Aceh Terjajal Hingga Paris

“Kalau keluar negeri, terakhir kemarin kita kirim ke Paris, Francis, sebanyak 15 kilo. Diaspora kita di Paris, membuka semacam stokies di sana dan di jual di sana,” kata Edy saat ditemui di salah satu cafe di Lampineung, Kota Banda Aceh, Kamis (19/5/2022).

Waktu Baca 9 Menit

Bumbu Meurasa Asal Aceh Terjajal Hingga Paris
Ig Bumbu Meurasa

Sejak dulu hingga sekarang, Aceh dikenal kaya dengan produk rempah-rempah. Dari itu, banyak saudagar-saudagar dari luar Nusantara (buyer) khususnya dari Eropa melancong ke Aceh dan melakukan perdagangan. 

Rempah-rempah tersebut dibawa dalam bentuk alami (masih utuh). Namun kini, secara utuh barangkali tidak terlalu dapat diharapkan untuk di kirim keluar negeri. Dari itu banyak yang melakukan langkah alternatif lain, salah satunya meracik rempah tersebut dalam bentuk bumbu. 

Kehadiran teknologi membuat sejumlah pengusaha pun berinisiatif untuk membuat bumbu dan rempah-rempah dapat digunakan secara instan dan mudah. Tidak ribet dan dapat dengan mudah dibawa kemana-mana serta di kirim ke berbagai tempat-tempat, salah satunya Bumbu Meurasa.

Kini bumbu Meurasa ini sudah sampai ke Paris dengan sekali pemesanan 600 pcs. Bumbu ini merupakan karya seorang warga Aceh, Edi Sandra (49) tahun. Edi menuturkan, terdapat beberapa varian bumbu yang ia olah, seperti bumbu bubuk Nasi Goreng Aceh, Mie Aceh, Ayam Tangkap, Kari Aceh, Gulai Aceh, dan Masak Puteh, serta Masak Mirah.

Edi menyebutkan, minat menghadirkan bubuk instan tersebut telah ditekuni sejak 2016, namun baru eksi setahun setelahnya (2017). Menurutnya, pada 2016 ini Edi lebih banyak melakukan eksperimen dan penciptaan proses bumbu instan. 

Pada 2017, bumbu tersebut terus di produksi dengan baik dari sedikit hingga banyak. Mesti terbatas, bumbu meurasa dapat di produksi hinggi 10 ribu pcs dalam sebulan.

Bumbu meurasa sendiri kebanyakan terjual di luar Aceh, tepatnya di beberapa kota di Indonesia dan menariknya juga telah sampai di Paris, Prancis.

Untuk sistem penjualan, Edi menekuninya dengan cara online membuat toko online. “Bila kemudian ada yang berminat dengan bumbu kita, biasanya akan segera di order dan kita kirim barang,” ujar Edi. 

“Kalau keluar negeri, terakhir kemarin kita kirim ke Paris, Francis, sebanyak 15 kilo. Diaspora kita di Paris, membuka semacam stokies di sana dan di jual di sana,” kata Edy saat ditemui di salah satu cafe di Lampineung, Kota Banda Aceh, Kamis (19/5/2022).

Edi merincikan, dalam satu kemasan Bumbu Meurasa itu diisi dengan berat 20 gram dengan harga pasar di Aceh Rp10 ribu.

Diketahui, bumbu-bumbu instan tersebut diracik dari 20 varian rempah-rempah yang ada di Aceh.

Awal munculnya ide ini lantaran karena sang istri suka masak dan saat itu sedang membuat kue hias (cake). Sehingga membuat masakan tidak lagi banyak waktu. Pada akhirnya, Edi mengambil langkah lain. 

Ia kemudian melirik dan memesan bumbu-bumbu yang dijual secara online. Namun kemudian Edi pun tertarik hingga akhirnya ia juga mendapatkan ide tersebut dengan membuat bumbu kering atau instan.

Selain itu, kawan-kawan Edi dari luar Aceh juga di minta untuk dikirimi rempah-rempah Aceh sehingga mendorong Edi untuk mencari alternatif lain.

“Nah, disinilah awalnya. Karena ada beberapa yang minta kirimkan bumbu namun tidak bisa kita kirimkan karena dalam kondisi basah. Akhirnya kita coba suatu produk, untuk permasalahan ini. Dan akhirnya terciptalah bumbu meurasa itu yang bisa di kirim ke mana pun dengan daya tahan selama dua tahun,” tambahnya.

Dan ini yang membuat kita lebih semangat, kata Edi. Dari itu pada 2016 itu, kita lebih banyak menciptakan produk guna menjawab permasalahan dari konsumen tadi.

Dengan terus berjuang, ia pun menekuninya dengan membangun pabrik kecil di jalan Rama setia, Desa Deah Glumpang, Ulee Lhee Kecamatan Meuraxa, Banda Aceh.

Disebutkan, kebanyakan konsumen Edi merupakan orang-orang yang sudah pernah ke Aceh atau berada di Aceh selama bertugas mengbadi negara. 

“Misalnya pernah tugas ke Aceh dan pernah merasakan masakan-masakan khas Aceh dan kangen masakan khas Aceh. Itu yang paling banyak order,” paprnya.

Selain diluar Aceh, pria kelahiran 23 Oktober 1973 tersebut juga telah pernah melakukan alternatif titip barang di toko dan swalayan di kota-kota besar di Aceh. 

“Namun sejak covid, kita putuskan secara manajemen dan tidak lagi jualan atau nitip di swalayan. Karena di sana berlaku sistem titip, sehingga banyak menumpuk barang di swalayan sehingga kita tidak bisa berputar dengan cepat. Itu salah satu masalah di kita. Karena produk kita masih terbatas. Jadi kurang lancarnya aliran khas kita,” sebutnya.

Menurut Edi, untuk di Aceh masih belum banyak yang berminat karena orang Aceh dibiasakan dengan mengolah bumbu sendiri. 

“Padahal dengan bumbu-bumbu ini kita mau memberikan solusi untuk masak jadi gampang dan mudah. Namun pada saat nitip yang paling lancar itu Banda Aceh, Lhokseumawe, Langsa atau pada kota-kota besar.hal itu dipengaruhi karena banyaknya ibu-ibu rumah tangga yang bekerja, sehingga bumbu meurasa menjadi solusi bagi mereka,” jelasnya.

Ke depan harapan terbesar Edi adalah terciptanya satu industri di Aceh khususnya industri bumbu untuk lokal dan mampu bersaing secara nasional dan internasional. 

Pada tahun 2022 ini, orientasi target Edi lebih kepada nasional. Memang untuk saat ini jaringan-jaringan distribusi melemah dan di sini kelemahan kita.

Atas kerja keras yang ia tekuni, sudah beberapa kali telah mengikuti pameran dan ekspo di luar Aceh. Bahkan, pada 25-27 Mei mendatang, Edi dan enam orang lainnya akan mengikuti ekspo di Bali-Jakarta. Ia berharap, melalui kegiatan-kegiatan pameran yang akan berlangsung di Bali pada 25-27 Mei 2022 mendatang sangat membantu proses pemasaran produk yang akan dijual. 

Untuk diketahui, Pameran dan Misi Dagang produk unggulan UMKM Aceh Jakarta-Bali atau Expo 2022 itu berlangsung di Beachwalk Mall Kuta, Bali. 

“Nah, jadi Jakarta-Bali ini luar biasa, terbuka peluang kita untuk membentuk jaringan distribusi di jaringan nasional,” ujarnya.

Melalui pameran tersebut juga Edi mengharapkan dapat terus melakukan promosi-promosi produk lokal di tingkat nasional dengan adanya promosi tentu akan menjadi jaringan dan menjadi pasar bagi pelaku usaha di Aceh.

Selain itu, brand Bumbu Meurasa karya Edi ini merupakan salah satu yang akan masuk dalam kegiatan G20 Indonesia untuk Aceh dan Sumatera.

Komentar

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
Loading...